Selong (suarantb.com) – Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) merupakan salah satu organisasi siswa yang bertujuan guna mempersiapkan generasi penerus bangsa agar memiliki jiwa kepemimpinan, disiplin, tangguh, bertanggung jawab serta berdedikasi tinggi bagi bangsa dan negara Indonesia.
Untuk menjawab tantangan tersebut SMPN 1 Terara menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan ( LDK) OSIS, di SMPN 1 Terara Lotim, Sabtu, 29 Agustus 2026.
LDK OSIS ini bertujuan untuk mencetak calon calon pemimpin bangsa yang berintegritas visioner serta memiliki jiwa enterpreneurship.
Kepala SMPN 1 Terara Mohamad Zaini mengatakan LDK ini adalah wadah bagi siswa dalam rangka menggembleng mental siswa agar memiliki jiwa kepemimpinan yang tangguh, cakap responsif, visioner serta memiliki wawasan enterpreneurship andal.
“Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial namun diharapkan pengurus OSIS mampu menjadi pionir dalam mengimbaskan materi yang sudah diperoleh kepada siswa yang lain serta ilmu yang diperoleh bisa berguna bagi diri sendiri dan orang lain di lingkungan sekolah,” terangnya.
Pihaknya berharap dengan mengundang beberapa narasumber sebagai pembicara di antaranya dari pihak kepolisian Sektor Terara, Koramil Terara, Puskesmas Terara serta pihak sekolah peserta bisa menumbuhkan jiwa kepemimpinan.
Dari kepolisian menitikberatkan pada upaya mencegah terjadinya perundungan di sekolah baik secara fisik maupun verbal. Alasannya karena perundungan adalah salah satu bentuk pelanggaran yang dapat menyebabkan trauma bagi korbannya.
Sedangkan dari Puskesmas Terara menyampaikan tentang bahaya mengkonsumsi Narkotika dan Zat Adiktif lainnya.
Sementara dari Koramil Terara menyampaikan materi tentang perlunya menumbuhkan jiwa patriotisme di kalangan siswa agar memiliki kepedulian terhadap tantangan masa depan bangsa yang semakin komplek.
Pada bagian lain Pembina OSIS SMPN 1 Terara Mursyid Azmi, S.Pd menyampaikan materi tentang melatih siswa untuk berani menyampaikan aspirasi ide gagasan. Selain itu ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di sekolah dengan santun.
Ia menegaskan bahwa pada kurikulum merdeka siswa diharapkan memiliki kecerdasan critical thinking baik tentang materi pelajaran maupun lingkungan sekolah. Dengan demikian siswa diharapkan mampu memiliki sense of belonging (rasa memiliki).
Menurutnya pada kurikulum merdeka ini, guru tidak lagi sebagai sentral kegiatan ( teacher oriented) namun sebaliknya siswa sebagai subjek dalam kegiatan pembelajaran.
Implementasi dari semua itu, ia meminta setiap peserta untuk mencari masalah yang ditemukan dilingkungan sekolah kemudian merumuskan gagasan ide dalam penyelesaian masalah tersebut.
“Pola ini membuat para siswa termotivasi dalam mendiskusikan masalah lingkungan sekolahnya serta mencari solusi terhadap permasalahan tersebut,” ujarnya. (r)


