Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus berkomitmen untuk melakukan upaya pencegahan dan penanganan stunting. Salah satunya dengan mendorong keterlibatan seluruh sektor dan pihak terkait untuk terus menekan kasus anak berbadan pendek tersebut.
“Persoalan stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan, tetapi membutuhkan intervensi bersama yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat,” tegas Bupati Kabupaten Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, Selasa (8/9).
Ia melanjutkan, anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan pertumbuhan, rentan terhadap penyakit serta berpotensi memiliki tingkat produktivitas lebih rendah ketika dewasa. Karena itu, penanganan stunting harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah.
“Ini merupakan tugas kita bersama dan kita harus berkolaborasi dalam menekan kasus stunting dalam mewujudkan Indonesia emas di tahun 2045 mendatang,” ucapnya.
Berdasarkan data lanjut Bupati, angka stunting tercatat sekitar 25 persen pada 2023 meningkat menjadi 29 persen pada 2024. Sementara, pada 2026 tercatat 3.325 balita mengalami stunting atau meningkat sebanyak 113 balita.
Pemerintah juga telah menerapkan pendekatan konvergensi dalam percepatan pencegahan dan penurunan stunting. Artinya, penanganan tidak hanya Dinas Kesehatan,melainkan terdapat 18 perangkat daerah yang terlibat, ditambah dukungan berbagai organisasi nonpemerintah melalui program corporate social responsibility (CSR)
“Intervensi kesehatan harus berjalan beriringan dengan intervensi sensitif, seperti pemenuhan akses air bersih, jamban layak, jaminan kesehatan, edukasi pola asuh, serta pencegahan paparan asap rokok,” tambahnya.
Persoalan sanitasi menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data terdapat sekitar 6,7 persen masyarakat yang akses jambannya masih menumpang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak cukup dilakukan melalui layanan medis, tetapi juga harus menyentuh lingkungan.
“Edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh dan pemenuhan kebutuhan anak. Pemahaman keluarga mengenai gizi, kesehatan dan pola asuh harus terus diperkuat secara masif dan berkelanjutan,” ujarnya. (ils)



