BerandaNTBLOMBOK TENGAHAntisipasi Kasus Keracunan, SPPG Diminta Selektif Tentukan Menu Makanan

Antisipasi Kasus Keracunan, SPPG Diminta Selektif Tentukan Menu Makanan

Praya (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) meminta pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Loteng agar lebih ketat dan selektif dalam menentukan menu makanan yang akan disajikan kepada penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu penting untuk mencegah terjadinya kasus dugaan keracunan makanan seperti yang dialami ratusan siswa di Kecamatan Batukliang, akhir pekan kemarin.


Permintaan tersebut disampaikan Asisten II Setda Loteng Drs. Lalu Rinjani, M.Si., saat dihubungi Suara NTB, Sabtu (12/9). Menurutnya menu-menu yang tidak tahan lama sebaiknya dihindari. Diganti dengan menu makanan yang punya daya tahan lama.


Dengan begitu, sekolah bisa lebih leluasa mengatur waktu penyajian makanan kepada siswa tanpa harus terburu-buru karena kondisi di sekolah berbeda. Ada yang bisa langsung menyajikan, ada juga karena kondisi tertentu tidak bisa langsung menyajikan makanan kepada siswa.


Karena itu, menyajikan menu makanan yang tahan lama penting dilakukan oleh pihak dapur. Ini guna menghindari kejadian makanan yang basi atau tidak sehat bagi siswa.


Dalam hal ini, Pemkab Loteng berencana untuk mengumpulkan semua pengelola dapur SPPG termasuk koordinasi program guna membahas dan mengevaluasi pelaksanan program MBG di Loteng. Momen itu sekaligus nantinya bisa menjadi momen perbaikan dan peningkatan kualitas layanan dari program MBG di daerah ini.


“Semua pengelola SPPD hingga koordinator program segara akan kita kumpulkan. Di situ nanti kita akan evaluasi menyeluruh soal program MBG. Tidak hanya soal menu makanan saja tetapi soal-soal yang terkait lainya. Seperti pengelolaan IPAL dan dampak lingkungan,” sebut Rinjani.


Pasalnya, pihaknya juga mendapat laporan di wilayah Kecamatan Kopang, ada warga yang mengeluhkan soal limbah dari salah satu dapur SPPG di tempat tersebut yang diduga mencemari lingkungan. Hal itu membuat warga sekitar dapur menjadi tidak nyaman dan terganggu.


“Pada dasarnya program MBG ini bagus dan baik. Bertujuan untuk meningkatkan nilai gizi anak-anak. Hanya memang perlu pembenahan dan perbaikan dalam hal pelaksanananya di lapangan. Sehingga manfaatnya bisa benar-benar dirasakan,” imbuh mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Loteng ini.

Sudah Dipulangkan

Disinggung terkait kondisi siswa korban dugaan keracunan MBG akhir pekan kemarin, Rinjani mengatakan dari 300 lebih siswa yang jadi korban, saat ini seluruhnya sudah dipulangkan. Dan, hanya memang beberapa siswa saja yang kondisi cukup parah, sehingga harus mendapat perawatan medis.


“Laporan terakhir sampai pukul 18.00 Wita (Jumat kemarin) semua siswa yang sempat dirawat di beberapa puskesmas sudah diperbolehkan pulang,” ujarnya.
Adapun terkait penyebab dugaan keracunan yang menimpa siswa di lima sekolah di Kecamatan Batukliang tersebut, ia mengaku masih diteliti. Sampel makanan dan muntahan siswa sudah dibawa untuk dilakukan pengujian di laboratorium. “Semoga saja hasilnya bisa cepat keluar dan bisa segera di ekspose,” tandasnya. (kir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN










VIDEO