Mataram (Suara NTB) – Tingkat okupansi hotel di Kota Mataram menjelang pelaksanaan MotoGP Mandalika masih tergolong rendah. Okupansi hotel di Mataram saat ini baru mencapai sekitar 40 persen, jauh di bawah kawasan Mandalika telah menembus lebih dari 85 persen.
Ketua Dewan Pembina dan Penasehat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, I Gusti Lanang Patra, menilai kondisi ini menunjukkan dampak penyelenggaraan MotoGP belum sepenuhnya dirasakan oleh hotel-hotel di Kota Mataram.
“Di ring satu, Mandalika dan sekitarnya sudah penuh 85 persen ke atas. Mataram masih 40 persen, Senggigi 80 persen,” ujarnya, Rabu (16/9).
Meski demikian, angka okupansi tersebut tidak seluruhnya mencerminkan jumlah tamu yang datang khusus untuk menyaksikan MotoGP. Sebagian kamar telah terisi oleh tamu reguler atau wisatawan yang datang untuk keperluan lain.
Kondisi di Mataram saat ini, katanya berbeda dibandingkan penyelenggaraan MotoGP pada tahun-tahun awal. Saat itu, permintaan kamar hotel meningkat tajam bahkan jauh sebelum hari pelaksanaan motor internasional tersebut, sehingga, harga kamar pada waktu itu melonjak tajam.
“Kalau tahun lalu jauh-jauh hari sebelumnya. Sekarang biasa saja. Sekarang kita Lombok Raya masih kosong, masih baru 40 persen,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) NTB, Ahmad Nur Aulia, mengatakan okupansi di Mandalika kini telah mencapai 100 persen pada saat pelaksanaan MotoGP 9-12 Oktober mendatang. Sementara itu, okupansi hotel di sejumlah kawasan lain seperti Mataram, Senggigi, Lombok Timur, dan Gili Trawangan berada pada kisaran 45 hingga 60 persen.
“Alhamdulillah kan dengan perkembangan saat ini, Mandalika yang bisa dikatakan hampir 100 persen sudah pemesanan. Dan bisa dilihat pada saat ini area Mataram, area Senggigi harganya masih dan semuanya-semuanya saya rasa sudah tidak ada masalah,” jelasnya.
Ia memastikan, data okupansi hotel tersebut turut masuk dalam pemantauan pihaknya. Untuk kawasan Mandalika, tingkat pemesanan kamar pada periode MotoGP hampir mencapai 100 persen. Sementara itu, kawasan Mataram mencatat tingkat okupansi sekitar 45 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Senggigi yang telah mencapai sekitar 60 persen.
Di Lombok Timur, tingkat okupansi hotel pada periode yang dipantau juga berada di angka 60 persen. Namun, ia tidak dapat memastikan seluruh pemesanan tersebut merupakan dampak langsung dari penyelenggaraan MotoGP.
“Tapi kita belum tahu, ini apakah karena di Sembalun kan orang weekend gitu loh. Kami belum memastikan apakah ini dampak dari MotoGP atau bukan,” pungkasnya. (era)



