Bima (Suara NTB) – Kabupaten Bima belum memiliki sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir yang memadai. Padahal menjadi salah satu wilayah yang langganan diterjang banjir. Pengadaan alat pendeteksi telah diajukan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperkuat kesiapsiagaan di daerah rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima Abdul Muis, S.Sos., mengatakan sistem peringatan dini menjadi salah satu kebutuhan yang telah diajukan ke BNPB. Selain perangkat peringatan dini banjir, BPBD juga mengusulkan sejumlah kebutuhan lain untuk mendukung penanganan bencana.
“Antara lain EWS itu dan kebutuhan yang lain juga untuk mendukung tugasnya BPBD,” kata Muis saat dikonfirmasi pada Jumat (18/9).
Kabupaten Bima memiliki 18 kecamatan dengan karakteristik wilayah dan tingkat kerawanan bencana yang berbeda. Dalam pemenuhan EWS, BPBD akan memprioritaskan wilayah yang dinilai langganan menghadapi ancaman banjir.
Muis menyebut Kecamatan Sanggar, Madapangga dan Wera sebagai wilayah yang menjadi perhatian. Ketiga kecamatan tersebut termasuk daerah yang setiap tahun menjadi perhatian ketika terjadi banjir.
“Yang tiap tahun langganan banjir di Kecamatan Sanggar, Kecamatan Madapangga, Kecamatan Wera,” sebutnya.
Pemasangan EWS nantinya akan disesuaikan dengan tingkat kerawanan masing-masing wilayah. Dengan keterbatasan dukungan peralatan, BPBD akan melakukan skala prioritas dan mendahulukan daerah yang memiliki ancaman banjir lebih tinggi. Pihaknya masih menunggu bentuk dukungan yang dapat diberikan pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan EWS di Kabupaten Bima.
Jika dukungan BNPB tidak tersedia, BPBD akan menyampaikan kebutuhan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Bima. Opsi tersebut disiapkan agar kebutuhan alat peringatan dini tetap dapat dipenuhi untuk membantu tugas BPBD di daerah.(hir)



