Udara dingin khas dataran tinggi Sembalun menusuk kulit, tetapi semangat membara justru terasa di setiap sudut kawasan saat Sembalun Mountain Marathon Festival digelar pada pertengahan September 2026. Acara ini bukan sekadar sebagai ajang adu cepat, melainkan sebuah perayaan pariwisata olahraga atau sport tourism yang mendunia. Gelaran tahun ini jadi daya tarik menggaet wisatawan dari 18 negara.
GELARAN yang berlangsung pada Sabtu (19/9/2026) ini sukses menyedot perhatian ribuan pencinta olahraga lari. Bukan hanya dari dalam negeri, langkah kaki para pelari mancanegara dari 18 negara turut meramaikan trek menantang di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Ketua Panitia Sembalun Mountain Marathon Festival 2026, Hamka Abdul Malik, mengungkapkan bahwa antusiasme tahun ini melonjak signifikan. “Jumlah peserta untuk kategori utama saja mencapai 500 orang untuk kategori 42K, kemudian disusul kategori 21K hingga 7K. Luar biasanya, event ini diikuti oleh pelari dari 18 negara. Sebagian besar wisatawan asing ini mendominasi kategori 21K dan 42K,” ujar Hamka di lokasi acara.
Kehadiran pelari internasional mengubah wajah Sembalun Mountain Marathon. Ajang ini tidak lagi hanya berbicara mengenai garis finis, tetapi mulai memperlihatkan wajah baru pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menggabungkan olahraga, alam, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Hamka menegaskan, konsep yang dibangun sejak awal memang tidak berhenti pada kompetisi. “Melalui pengalaman olahraga ini, kita ingin memperkenalkan kembali pesona Sembalun sekaligus menggairahkan potensi masyarakat setempat. Kita ingin warga bangga dengan acara ini dan ikut memeriahkan kawasan Sembalun, termasuk memberikan edukasi dan ruang belajar bagi anak-anak,” katanya.
Berlari di ketinggian bukan perkara mudah. Kontur dan kondisi udara pegunungan mengubah olahraga lari yang biasanya dilakukan di jalan datar menjadi pengalaman yang jauh lebih menantang.
Suyud Saputra Bakti, peserta asal Lombok Timur yang turun di kategori 7K, mengaku justru tertarik dengan karakter trek tersebut. “Sangat menarik karena biasanya kalau ke Sembalun kita cuma naik bukit. Kali ini kita menjajal road running di atas ketinggian 1.000 lebih dengan kadar oksigen yang lebih tipis. Otomatis napas terasa lebih terengah-engah, tapi justru itu yang bikin penasaran,” ujarnya.
Menurut Suyud, tantangan fisik tersebut terbayar lunas dengan panorama Sembalun yang tersaji sepanjang lintasan. “Apalagi jalurnya menyusuri sudut-sudut Sembalun yang sangat cantik,” tambahnya.
Bagi Suyud, karakter seperti inilah yang membuat olahraga dan pariwisata dapat bertemu dalam satu event. Peserta tidak hanya datang untuk mengejar catatan waktu, tetapi juga memperoleh pengalaman wisata yang sulit didapatkan melalui kunjungan biasa.
Meningkatnya minat wisatawan terhadap event olahraga dinilai membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Sembalun. Peserta dan pendamping membutuhkan akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga berbagai kebutuhan selama berada di destinasi.
Dengan demikian, geliat event berpotensi mengalir ke sektor homestay, UMKM kuliner, jasa transportasi, serta usaha masyarakat lainnya. Suyud berharap pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi NTB tidak berhenti pada dukungan penyelenggaraan, tetapi memperkuat promosi agar event tersebut memiliki jangkauan internasional yang semakin luas.
“Tren pariwisata sekarang sudah bergeser. Sport tourism seperti ini punya daya pikat luar biasa untuk mendatangkan wisatawan dibanding sekadar destinasi pasif,” katanya.
Ia menilai promosi menjadi salah satu kunci agar dampak ekonomi event dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. “Kita berharap pemerintah daerah memberikan support (dukungan) maksimal, terutama dari sisi promosi, agar gaungnya lebih terasa dan dampak finansialnya. Mulai dari homestay hingga UMKM kuliner dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Sembalun,” pungkasnya.
Dengan peserta yang datang dari 18 negara dan ratusan pelari yang turun di kategori utama 42K, Sembalun Mountain Marathon Festival 2026 memperlihatkan bahwa lanskap pegunungan bukan hanya latar belakang pariwisata. Di tangan sport tourism, jalanan Sembalun telah berubah menjadi panggung kompetisi sekaligus pintu masuk wisatawan dunia—dan peluang ekonomi baru bagi warga lokal. (rus)



