Mataram (Suara NTB) – Opening Ceremony MotoGP 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit akan dimeriahkan pertunjukan seni tari Nusantara. Tarian dari Papua, Maluku, Minahasa, Nusa Tenggara Timur (NTT), NTB, Sulawesi Selatan hingga Bali akan dikolaborasikan dalam satu pertunjukan.
Koreografer NTB Lalu Suryadi Mulawarman mengatakan, konsep pertunjukan mengangkat kekayaan budaya dan tradisi Nusantara, khususnya tari-tarian yang memiliki unsur kepahlawanan yang kuat.
“Kita coba mengangkat beberapa tari kepahlawanan yang ada di Nusantara. Kepahlawanan dari Maluku, kepahlawanan dari Minahasa, kepahlawanan NTB, Papua,” ujar Kepala Taman Budaya NTB ini di Kantor Gubernur NTB, Selasa (22/9/2026).
Selain tari kepahlawanan, pertunjukan juga menampilkan tarian tradisional dari Sulawesi Selatan dan Bali. Seluruhnya dikemas menjadi satu rangkaian pertunjukan untuk membuka perhelatan MotoGP 2026 di Mandalika.
’Tari yang akan ditampilkan antara lain Tari Caci dari NTT, Tari Cakalele dari Maluku, Tari Kabasaran dari Minahasa, Tari Tandang Mendet dari NTB, Tari Perang dari Papua, Tari Pakarena dari Sulawesi Selatan, serta tari dari Bali. Pertunjukan tersebut juga akan diperkuat Marching Band dari STPDN, Colour Guard dan Gendang Beleq, dengan melibatkan sekitar 250 talent.
“Jadi tujuh item ini yang coba kita angkat menjadi satu pertunjukan.
Menampilkan tari-tari kepahlawanan, the aspect tari kepahlawanan dan tari dengan unsur tradisi yang sangat kuat. Pakarena dan yang dari Bali juga tampil pada opening ceremony MotoGP 2026 ini,” jelasnya.
Sinergi Koreografer Jakarta dan NTB
Lalu Suryadi Mulawarman menjelaskan, persiapan opening ceremony saat ini telah mencapai sekitar 65 persen. Latihan para talent sudah berjalan dan sebagian besar kostum juga telah disiapkan.
Namun, sejumlah kostum dan properti untuk tari dari luar NTB masih dalam proses pengadaan. Di antaranya kostum untuk tarian dari NTT, Minahasa dan Maluku yang didatangkan dari Jakarta.
“Persiapan sekitar 65 persen. Latihan sudah siap. Kostum juga sudah siap. Tinggal beberapa properti yang didatangkan dari luar. Seperti tarian dari NTT, Minahasa dan Maluku, kostumnya didatangkan dari luar. Dari Jakarta,” katanya.
Menurutnya, pertunjukan ini merupakan bentuk kolaborasi antara koreografer dan pelaku seni dari Jakarta dengan talenta lokal NTB.
“Talent yang dipakai adalah talent lokal, kecuali koreografer Ferdinand dari Jakarta. Ini bentuk sinergi lokal dan nasional,” ujarnya.
Pemilihan berbagai tarian dari daerah di Indonesia bukan tanpa alasan. Menurutnya, keberadaan Sirkuit Mandalika dan penyelenggaraan MotoGP di NTB harus menjadi momentum untuk memperkenalkan sekaligus mengapresiasi keberagaman budaya Indonesia.
Ia ingin penonton yang datang dari berbagai daerah merasakan keterwakilan budaya daerahnya ketika menyaksikan opening ceremony.
“Dasarnya karena Sirkuit Mandalika tidak hanya dimiliki Lombok atau NTB saja, tetapi juga dimiliki oleh seluruh masyarakat Nusantara,” katanya.
Menurut dia, akan ada kebanggaan tersendiri ketika identitas budaya berbagai etnis di Indonesia ditampilkan di panggung internasional MotoGP.
“Ketika mereka menonton MotoGP langsung di Sirkuit Mandalika ada kebanggaan bagi penonton yang berasal dari daerah itu. Oh, ada NTT, ada Maluku, daerah saya. Ada kebanggaan. Itu yang kita tawarkan,” jelasnya.
Konsep tersebut diharapkan membuat Mandalika tidak hanya menjadi panggung bagi NTB, tetapi juga ruang bersama untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada penonton domestik maupun mancanegara.
“Bagaimana apresiasi dari penonton, dari masyarakat, dari yang mempunyai entitas etnis. Itu terutama yang kita tawarkan, sehingga Mandalika ini bukan hanya milik orang NTB saja, tapi seluruh masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (ham)



