BerandaEKONOMIHarga Bahan Baku dan Biaya Produksi Kain Songket Naik

Harga Bahan Baku dan Biaya Produksi Kain Songket Naik

Praya (Suara NTB) – Kenaikan harga bahan baku mulai dirasakan perajin tenun di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Harga benang yang menjadi bahan utama pembuatan kain songket mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.


Pembina Mina Tenun Sukarara, Sudirman, mengatakan harga benang katun saat ini naik sekitar Rp2.000 per ikat dibandingkan sebelumnya. Kenaikan tersebut sudah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir. “Sekitar Rp2.000 naiknya. Ini sudah sekitar tiga bulan yang lalu,” kata Sudirman.


Menurutnya, benang katun yang sebelumnya berada di kisaran Rp12.000-Rp13.000 per ikat, kini dapat mencapai sekitar Rp15.000-Rp17.000, tergantung jenis dan kualitasnya. Benang tersebut digunakan dalam proses pembuatan kain tenun, termasuk songket.


Tidak hanya benang katun, harga benang emas yang digunakan untuk membentuk motif pada kain songket juga mengalami kenaikan sekitar Rp2.000-Rp3.000.


“Benang emas juga naik, kurang lebih Rp2.000 sampai Rp3.000,” tambahnya.
Sudirman mengatakan kenaikan harga tidak hanya terjadi pada benang. Sejumlah bahan dan kebutuhan produksi lainnya ikut mengalami peningkatan. Kondisi tersebut membuat biaya produksi perajin ikut bertambah.


Di sisi lain, upah tenaga kerja dalam proses pembuatan kain tenun juga harus disesuaikan. Mulai dari proses penggulungan benang hingga tahapan ngani membutuhkan tenaga dan waktu, sehingga peningkatan biaya produksi turut memengaruhi harga jual kain.


“Kalau upahnya naik, ikut naik juga untuk proses penggulungan benang atau ngani. Jadi menyesuaikan perkembangan,” jelasnya.


Menurut Sudirman, penyesuaian harga jual kain songket menjadi salah satu cara menjaga agar kenaikan biaya produksi tidak terlalu menekan perajin. Harga produk kemudian disesuaikan dengan biaya bahan baku dan operasional.
“Jadi seimbang antara kenaikan harga songket dengan biaya operasionalnya,” katanya.


Meski demikian, Sudirman menilai kenaikan harga produk tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Harga tetap mempertimbangkan jenis kain, motif, tingkat kesulitan pengerjaan serta kemampuan pembeli.


Ia berharap kondisi ini tidak semakin membebani perajin tenun yang selama ini bergantung pada penjualan produk kerajinan kepada wisatawan maupun pembeli dari luar daerah. Kenaikan biaya produksi, di tengah fluktuasi kunjungan dan daya beli, menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan usaha tenun secara keseluruhan. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN







VIDEO