Taliwang (Suara NTB) – Penanganan kesehatan jiwa di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menunjukkan capaian signifikan. Sebanyak 450 Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat telah mendapatkan pelayanan atau mencapai 107 persen dari target hingga akhir Agustus. Pada periode yang sama, KSB juga mencatat nol atau nihil kasus pasung.
Capaian tersebut kemudian menjadi bagian dari model penanganan ODGJ yang dibagikan Pemda KSB dalam Pertemuan Nasional Modeling Kesehatan Jiwa Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) KSB, dr. Carlof yang tampil sebagai salah satu narasumber mengangkat persoalan itu dengan judul materi “Penanganan ODGJ di KSB melalui Progam KSB Maju Kesehatan”.
Dalam forum tersebut, Carlof memaparkan bagaimana penanganan ODGJ di KSB tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan pengobatan. Layanan dibangun secara berjenjang melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan puskesmas sebagai basis pelayanan serta keluarga dan masyarakat dilibatkan dalam proses perawatan.
Model pelayanan tersebut diperkuat melalui Program KSB Maju Kesehatan, khususnya dengan keberadaan TRC Ambulans berbasis puskesmas. Melalui layanan ini, tenaga kesehatan tidak hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, tetapi dapat bergerak langsung mendatangi masyarakat di rumah.
Penguatan sistem juga dilakukan melalui SIAGA PRIMA KSB yang mengintegrasikan Siaga Data, Siaga Sistem dan Siaga Layanan. Sistem tersebut terhubung dengan Aplikasi KSB Maju untuk membantu melihat sebaran kasus, pemetaan serta stratifikasi risiko, termasuk mengidentifikasi ODGJ yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
“Kesehatan jiwa tidak cukup menunggu pasien datang. Sistem harus mampu menemukan siapa yang berisiko, menjangkau yang membutuhkan, memberikan pelayanan, dan memastikan tindak lanjutnya,” kata Carlof dalam pemaparannya.
Melalui model tersebut, KSB mendorong layanan kesehatan jiwa bergerak dari pola yang hanya berpusat pada fasilitas kesehatan menuju pelayanan primer yang aktif, terintegrasi dan berbasis risiko. Keluarga dan masyarakat ditempatkan sebagai bagian penting agar penanganan ODGJ tidak berhenti pada pelayanan medis, tetapi berlanjut hingga proses pemulihan dan pendampingan.
Dalam forum nasional tersebut, KSB pun berkesempatan berbagi pengalaman dengan Pemprov DKI Jakarta, Kabupaten Belitung Timur dan Kabupaten Magelang.
“Forum itu kita harapkan menjadi ruang bagi KSB untuk bertukar praktik dengan daerah lain dan memperkuat pengembangan model pelayanan kesehatan jiwa yang lebih dekat dengan masyarakat,” kata Carlof.(bug)



