BerandaBIMAKaji Potensi Rute Sape-Makassar

Kaji Potensi Rute Sape-Makassar

Bima (Suara NTB) – PT. Angkutan Sungai Danau Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) akan mengkaji potensi pasar untuk membuka rute penyeberangan tujuan Sape-Makassar. Kajian ini menjadi salah satu dasar untuk menentukan kebutuhan kapal, frekuensi perjalanan hingga pola layanan pada lintasan tersebut.

General Manager ASDP Ronaldo Hutabarat mengatakan, kajian potensi pasar rute Sape-Makassar diperlukan untuk memastikan potensi muatan yang dapat menopang operasional rute. Pihaknya perlu mendapatkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Bima mengenai potensi ekonomi serta komoditas yang dapat diangkut dari dan menuju Bima.

“Yang penting sekali, kami masih perlu melihat pasar. Data potensi pasar ini yang nantinya menentukan jadwal, frekuensi perjalanan, ukuran kapal yang dibutuhkan, dan tarif,” katanya, Rabu (30/9).

Menurut Ronaldo, rute Sape-Makassar tidak semata diarahkan untuk angkutan penumpang. Potensi angkutan barang menjadi bagian penting karena konektivitas langsung dengan Sulawesi Selatan dapat membuka jalur distribusi dua arah.

Komoditas dari Bima termasuk hasil pertanian dan perkebunan berpeluang dikirim ke Sulawesi. Sebaliknya, komoditas dari Sulawesi seperti pupuk dapat masuk ke wilayah Bima dan daerah sekitarnya.

Ronaldo menyebut sekitar 90 persen kebutuhan logistik NTB dan NTT selama ini masih bergantung pada jalur distribusi dari Jawa Timur terutama Surabaya. Ketergantungan tersebut dinilai membuat distribusi rentan terhadap kepadatan jalur penyeberangan dan berpengaruh terhadap biaya logistik.

“Kalau kita bisa langsung menghubungkan NTB dengan Sulawesi Selatan, ketergantungan terhadap Jawa Timur bisa dikurangi. Ini juga bagian dari upaya menekan biaya logistik dan menjaga stabilitas ekonomi,” ujarnya.

Dari sisi layanan, ASDP melihat kapal Ro-Ro memiliki keunggulan karena kendaraan pengangkut barang dapat langsung ikut menyeberang tanpa melalui proses penumpukan seperti pada angkutan peti kemas. Namun, jenis dan kapasitas kapal tetap menunggu hasil kajian pasar serta kajian teknis pelabuhan.

“Kita harus lihat dulu pasarnya, kemudian kita petakan potensinya. Dari situ baru bisa ditentukan kebutuhan armada dan bagaimana pola operasionalnya,” kata Ronaldo.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bima A. Rifai mengatakan rencana pembukaan rute Sape-Makassar dinilai penting,karena arus komoditas dari Bima, Kota Bima dan Dompu selama ini masih menghadapi keterbatasan konektivitas menuju wilayah tujuan seperti Makassar, Kalimantan, Manado hingga Papua.

“Sape-Makassar ini sangat mendesak, karena pergerakan barang dan jasa kita masih agak terkendala. Ini bukan hanya kepentingan Kabupaten Bima, tetapi juga Kota Bima dan Dompu,” katanya.

Menurut Rifai, penguatan dukungan dari tiga daerah diperlukan agar usulan pembukaan rute tersebut memiliki dasar yang lebih kuat. Pemerintah daerah dapat menyampaikan surat dukungan kepada pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.

“Kalau tiga daerah ini bersama-sama menyampaikan dukungan, tentu akan lebih kuat. Karena Sape ini menjadi simpul yang menghubungkan pergerakan orang dan barang,” ujarnya.

Kepala Bappeda Kabupaten Bima, Hariman mengatakan konektivitas transportasi menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Bima memiliki sejumlah komoditas surplus yang membutuhkan akses pasar di luar daerah.

“Kalau barang kita sulit keluar, tentu akan menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Karena itu, transportasi dan konektivitas menjadi salah satu yang harus kita perkuat,” katanya.

Ia mengatakan pengembangan rute Sape-Makassar juga sejalan dengan rencana pengembangan sektor ekonomi dan hilirisasi di Kabupaten Bima. Jika kapasitas produksi meningkat, kebutuhan terhadap jalur distribusi yang mampu mengangkut barang dalam jumlah besar akan semakin penting.

Hariman menambahkan, pengembangan Pelabuhan Sape perlu diarahkan tidak hanya sebagai titik keberangkatan penumpang, tetapi juga sebagai simpul distribusi barang. Potensi tersebut perlu dihitung melalui proyeksi arus orang dan barang agar pengembangannya sesuai kebutuhan.

“Kita ingin Sape ini benar-benar menjadi hub. Tetapi tentu harus ada proyeksi lalu lintas orang dan barang untuk melihat kebutuhan lima sampai sepuluh tahun ke depan,” tutupnya. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN








VIDEO