SINEAS film tanah air, Umay Shahab, muncul kembali dengan karya terbarunya, “Memburu Pemangsa”. Tayang perdana pada 24 September 2026, film ini mengusung genre horror-crime-action.
Selayang pandang, film keempat Umay ini mengikuti perjalanan empat jurnalis dibintangi Laura Basuki (Agnes), Prilly Latuconsina (Cia), Yasamin Jasem (Anya), Taskya Namya (Brina) serta Andri Mashadi sebagai Petra (polisi) memburu pelaku kekerasan seksual dan pembunuh anak. Namun, perjuangan mereka ternyata tidak mudah. Mengingat, musuh yang mereka hadapi memiliki kekuatan supranatural.
Dari pemilihan isu, film ini memang cukup menjanjikan. Mengingat, kasus dugaan kekerasan seksual memang marak terjadi belakangan. Entah di lingkungan keluarga, sekolah, hingga Ponpes.
Sayangnya, dari sisi penceritaan, film ini terasa kurang matang. Sejak awal, penonton langsung dilempar ke dalam intensitas ketegangan yang tinggi tanpa diberi ruang untuk memahami konteks peristiwa atau kedalaman karakter. Tempo yang cepat terasa melompat-lompat, sementara fondasi latar cerita belum terbangun kokoh.
Perlu dicatat, premis film ini menyoroti empat jurnalis yang menginvestigasi kasus kekerasan terhadap anak. Namun, dalam sepanjang film, penonton hanya dipertontonkan bagaimana upaya tokoh-tokohnya mengungkapkan silang-sengkarut motif dan modus pelaku. Sementara, aspek serta laku investigasi jurnalistiknya terasa minim. Alhasil, semua tokoh yang awalnya diperkenalkan sebagai seorang jurnalis, berubah peran menjadi aparat penegak hukum yang sedang bermain detektif-detektifan. Barangkali hal ini sepele, tapi menjadi penting sebagai sebuah bangunan cerita utuh.
Selain penceritaan, dialog-dialog dalam film ini juga terkesan tidak organik dan kerap mengulang-ulang diksi. Seperti kata “kocak” dan “secepat mungkin” yang diulang-ulang dalam satu adegan dialog. Lagi-lagi, barangkali sepele, tapi menjadi mengganggu ketika satu kata muncul terus-terusan.
Bahkan, beberapa dialog seperti membocorkan inti cerita yang dalam alurnya belum muncul. Hal ini bisa dilihat ketika Cia (Prilly Latuconsina) menyampaikan hipotesisnya terhadap motif pelaku kekerasan memburu bagian tubuh tertentu para korbannya.
Secara visual, film ini cukup baik. Berkat visual yang ciamik, atmosfer ketegangan sampai ke penonton. Adegan laganya juga terbilang keren. Mengingat, koreografer aksi adalah Muhammad Irfan yang juga pernah terlibat dalam film The Raid.
Meski demikian, nuansa horor film ini masih tergolong kurang. Adegan gore hingga kemunculan dedemit dalam film tak sampai membuat penonton berteriak ketakutan. Akhirnya, seperti film yang tidak mampu membuat nuansa creepy dengan tepat, film ini mengggunakan jurus film horor kebanyakan: jumpscare. Alih-alih takut, horor-nya terasa dipaksakan.
Di luar kekurangan itu, film ini patut diacungi jempol. Apalagi isu yang dibawa merupakan persoalan yang tengah marak terjadi. Melalui film ini, Umay nampaknya ingin menyampaikan pesan tentang gentingnya kasus kekerasan seksual. Ia juga seperti menitipkan semacam ajakan untuk bersama-sama memberantas perilaku biadab tersebut.
Satu-satunya tokoh yang layak diberi acungan jempol atas aktingnya yang ciamik adalah Teuku Rifnu Wikana sebagai pemangsa atau antagonis. Rifnu tampil maksimal dalam memerankan tokoh jahat dalam film ini. Berkat atingnya yang totalitas, sosok predator anak terasa begitu menakutkan.
Secara umum, Memburu Pemangsa tetap layak masuk dalam daftar tontonan akhir pekan Anda. Di luar fungsi hiburannya, Umay Shahab berhasil memanfaatkan medium film untuk menyuarakan pesan mendesak tentang bahaya kekerasan seksual, sekaligus mengajak masyarakat membangun kesadaran kolektif demi melindungi anak-anak dari para predator. (Sibawaeh)



