Selong (Suara NTB) – Dampak fenomena El Nino yang berkepanjangan memaksa jadwal musim tanam di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), NTB mundur hingga Januari 2027. Kepala Dinas Pertanian Lotim, Lalu Fathul Kasturi, mengungkapkan bahwa pergeseran musim tanam ini merupakan konsekuensi langsung dari kemarau panjang yang melanda sebagian besar wilayah.
“BMKG memprediksi musim tanam akan bergeser mundur ke Januari 2027,” ujar Fathul dalam keterangannya menjawab Suara NTB, Senin (5/10/2026).
Kondisi ini sangat berbeda dari pola normal, di mana musim hujan di Lotim biasanya sudah mulai pada November.
Kekeringan akibat El Nino yang berkepanjangan tersebar di delapan kecamatan, meliputi Keruak, Jerowaru, Sakra Timur, Pringgabaya, Sambelia, Suela, dan Aikmel bagian Utara. BMKG sendiri telah menetapkan Lotim sebagai salah satu dari tujuh daerah di NTB yang masuk status awas kekeringan meteorologis, dengan indeks El Nino mencapai +2,26 derajat Celsius. Bahkan, Lotium menjadi lokasi terparah dampak kekeringan dengan 92.999 jiwa dan 41 desa terdampak.
Dinas Pertanian mencatat luas tanam padi periode Januari–September mencapai 35.601 hektare, sedangkan luas tanam jagung pada periode yang sama tercatat 7.151 hektare. Meskipun demikian, terjadi spot-spot yang terdampak kekeringan di sejumlah wilayah.
Kondisi di lapangan menunjukkan perbedaan yang signifikan antara wilayah selatan dan utara Lotim. Saat ini, sekitar 4.873 hektare lahan tadah hujan yang potensial untuk tanaman pangan di wilayah selatan sedang memasuki tahap persiapan menyambut musim hujan. Petani di kawasan selatan mulai membersihkan lahan untuk menyambut turunnya hujan.
Sementara itu, wilayah utara Lotim masih relatif aman dengan intensitas tanam yang cukup baik. Namun, Fathul menegaskan bahwa fenomena El Nino ini tidak dapat dipandang sebelah mata. “El Nino ini sangat berpengaruh pada musim tanam,” tegasnya.
Dinas Pertanian Lotim telah mulai melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya gagal tanam hingga gagal panen. Pemerintah daerah telah menyiapkan 205 titik sumber air dari program nasional, yang mencakup pembangunan sumur dangkal dan dalam, dengan setiap titik diproyeksikan mampu menyuplai kebutuhan air sedikitnya lima hektare lahan pertanian.
Selain itu, optimalisasi saluran irigasi, pembangunan embung dengan konsep panen air, serta irigasi perpompaan juga terus dilakukan. Pemerintah juga mengimbau petani untuk menanam varietas yang tahan terhadap kondisi kekeringan.
BMKG memprediksi 93 persen wilayah NTB, termasuk sebagian besar Lotim, baru akan memasuki musim hujan pada Desember 2026. Hanya sebagian kecil Lotim bagian barat yang diperkirakan masuk musim hujan lebih awal pada akhir November 2026.
Musim hujan yang mundur ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino sangat kuat dengan indeks terakhir mencapai 2,83 derajat celsius, yang diperkirakan berlangsung hingga awal tahun 2027.
Sebagai daerah penyangga pangan nasional, Lotim terus berupaya meningkatkan produksi pangan untuk mewujudkan swasembada pangan. Produktivitas lahan di daerah ini tercatat mencapai 53,63 kuintal atau setara 7,3 ton per hektare Gabah Kering Panen.
Target luas tanam padi tahunan mencapai 62.000 hektare, dengan rata-rata produksi 7,2 ton gabah kering panen per hektare. Pemerintah daerah juga terus mendorong optimalisasi pola tanam, di mana lahan yang biasanya ditanam sekali diupayakan menjadi dua kali, dan yang dua kali menjadi tiga kali.
“Apapun kondisinya, pertanian harus tetap eksis. Karena sektor ini menjadi penyumbang terbesar ekonomi daerah. Pemerintah sudah melakukan langkah mitigasi agar dampak kemarau bisa ditekan,” demikian terang Fathul Kasturi. (rus)



