Giri Menang (Suara NTB) – Kondisi miris dialami sejumlah janda jompo yang masuk kategori kurang mampu atau miskin di Desa Merembu, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat (Loba). Di antara lansia tersebut, ada yang hidup sebatang kara, tidak punya pekerjaan. Dan ada yang menyambung hidup menjadi pemulung. Ironisnya mereka mengeluh tidak masuk desil 1-5 yang berhak menerima bantuan, tetapi mereka berada di desil 7 hingga 9.
Seperti dialami Masnah dari Dusun Tangkeban, Desa Merembu, Lobar. Janda tua itu, mengaku selama ini tidak pernah mendapatkan bantuan. Wanita dua anak itu ditinggal oleh almarhum suaminya sejak beberapa tahun silam, sehingga ia harus menanggung sendiri biaya hidup keluarga. Semenjak anak-anaknya menikah, ia pun tinggal sendiri di rumahnya.
“Saya tinggal sendirian, karena suami saya sudah meninggal,” tuturnya, Selasa (6/10).
Masnah mengaku tidak punya pekerjaan, sehingga untuk kebutuhan sehari-hari kadang diberikan oleh keluarga dan anak-anaknya. Itu pun tidak seberapa. Kondisi semakin sulit ketika ia tak lagi mendapatkan bantuan dari pemerintah karena persoalan Desil. Ia mendapati bantuan Bapang, itu pun sebagai pengganti KPM yang tidak ditemukan. Bahkan ia mengaku baru kali ini mendapatkan bantuan. “Baru kali ini saya dapat bantuan,” akunya.
Ia sangat berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah, karena dengan kondisinya ia sangat membutuhkan bantuan. Dan ia merasa layak dan cocok diberikan bantuan.
Rapiah, lansia dari Dusun Tangkeban juga mengalami hal serupa. Ia mengaku tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. “Dulu pernah dapat, tapi sekarang tidak lagi,” aku dia.
Untuk menyambung hidup sehari-hari Rapiah mencari plastik atau menjadi pemulung. Dari memulung itu, ia bisa mengumpulkan 2 kilogram plastik dalam beberapa hari. Per kilogram plastik dijual seharga Rp1500. Dalam satu pekan ia hanya bisa memperoleh hasil jual plastik Rp15 ribu. Ia keliling memulung plastik di jalan raya, tetapi kadangkala ia tidak kuat berjalan karena usia.
“Kadang saya tidak kuat , tapi tepaksa karena harus hidup,” imbuhnya.
Ia memiliki tiga anak, tetapi mereka tinggal jauh darinya. Bahkan ada juga yang merantau di luar negeri. Mereka kadang-kadang memberikannya sangu untuk biaya hidup sehari-hari. Terkadang ia diberikan oleh warga sekitar.
Beban hidup kian berat dipikulnya, semenjak suaminya meninggal beberapa bulan lalu. Karena ia harus menanggung biaya hidup sendiri sebagai kepala keluarga. Ia sangat berharap perhatian dari pemerintah agar didinya bisa mendapatkan bantuan sosial. “Harapan saya bisa dapat bantuan,” harapnya.
Sementara itu, Kepla Desa Merembu, H. Muhazzab mengatakan, persoalan desil menjadi momok di desanya karena tidak sesuai dengan faktual lapangan.
Padahal pihak desa jelas dia, telah melakukan pendataan secara manual warga masyarakat baik ekonomi menengah ke bawah dan menengah ke atas. Tetapi selama ini pemerintah seolah-olah mengabaikan. “Yang menjadi pertanyaan kami siapa yang mengatur dssal ini,” tegasnya.
Kondisi faktual di lapangan, banyak di antara warga miskin malah berada di atas desil 6 sampai 8. Justru yang menjadi momok dan pertanyaan, kata dia, warga mendapatkan desil 1-4 kebanyakan warga mampu, punya sawah, kendaraan artinya memiliki kemampuan ekonomi menengah ke atas. Untuk itu pihaknya meminta kepada pemerintah mengevaluasi data desil ini.
“Karena kalau ini dilakukan terus menerus (jadi patokan) tidak akan pernah berakhir masalahnya,” tegasnya. (her)



