BerandaEKONOMIMesin Pencacah Sampah Bantuan BUMN di Desa Kuta Mangkrak

Mesin Pencacah Sampah Bantuan BUMN di Desa Kuta Mangkrak

Praya (Suara NTB) – Mesin pencacah sampah plastik bantuan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pegadaian di Desa Kuta, Lombok Tengah, kini tidak lagi beroperasi. Mesin berukuran besar tersebut mangkrak karena terkendala biaya operasional, ketersediaan air, listrik hingga lokasi pengolahan yang tidak memadai.


Pengurus Bank Sampah Putri Nyale Desa Kuta, Hanilah, mengatakan mesin tersebut sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mengurangi volume sampah plastik. Namun, sejak beberapa tahun terakhir mesin tidak dapat digunakan secara optimal.


Salah satu kendalanya adalah kebutuhan air untuk mendukung operasional mesin. Sumber air yang digunakan berasal dari sumur gali. Saat musim kemarau, sumber tersebut ikut mengering.


“Kalau sudah musim seperti sekarang, sumber air warga saja sudah kering. Jadi mesin tidak bisa dioperasikan. Karena air dibutuhkan untuk membersihkan plastic yang sudah dicacah,” kata Hanilah, Kamis, 8 Oktober 2026.


Selain persoalan air, penggunaan mesin diesel juga menjadi pertimbangan pengelola. Suara mesin yang cukup bising dan asap dari bahan bakar solar dikhawatirkan mengganggu lingkungan sekitar.


Lokasi Bank Sampah Putri Nyale berada di kawasan wisata yang dikelilingi homestay dan vila. Kondisi tersebut membuat pengoperasian mesin diesel dinilai kurang ideal, terlebih saat aktivitas wisatawan sedang tinggi.


“Suara mesinnya masih cukup bising karena belum ada peredam. Asap dari solar juga menjadi pertimbangan karena di sekitar sini banyak wisatawan,” ujarnya.


Persoalan lainnya adalah keterbatasan listrik. Menurut Hanilah, listrik yang sebelumnya digunakan untuk mengoperasikan mesin merupakan fasilitas yang diberikan melalui program TJSL dan hanya tersedia dalam masa tertentu. Setelah masa tersebut berakhir, aliran listrik tidak lagi tersedia.
Pengelola kini harus mengurus kembali sambungan listrik jika ingin mengaktifkan mesin.


Di sisi lain, kapasitas gudang pengolahan sampah saat ini juga tidak mencukupi untuk menampung seluruh peralatan. Bank Sampah Putri Nyale bahkan telah mengajukan lahan yang lebih luas kepada pemerintah desa untuk memindahkan lokasi pengolahan.


“Di sini sudah tidak mendukung lagi. Di sampingnya ada pemerintah desa, homestay dan vila. Kami sudah mengajukan lahan yang lebih luas untuk pemindahan,” katanya.


Meski demikian, pengelola berharap mesin pencacah tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Peralatan yang semestinya membantu mengurai sampah plastik itu diharapkan bisa kembali dimanfaatkan setelah persoalan lokasi, energi dan biaya operasional mendapat solusi. “Kalau bisa diaktifkan lagi, sayang sekali kalau tidak dipakai,” tandasnya. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO