Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menargetkan penerimaan pajak dari sektor perhotelan mencapai Rp3 miliar hingga Rp4 miliar selama gelaran MotoGP Mandalika 2026. Target tersebut didorong oleh peningkatan tingkat hunian kamar hotel berbintang di Kota Mataram menjelang ajang balap internasional tersebut.
Kepala Bidang Pelayanan Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram, Achmad Amrin, mengatakan peningkatan hunian kamar hotel mulai terasa sejak awal pekan menjelang balapan. Berdasarkan data sementara, tingkat hunian hotel mengalami kenaikan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya maupun bulan-bulan sebelumnya.
“Mudah-mudahan penerimaan pajak hotel bisa tembus Rp3 miliar sampai Rp4 miliar,” ujarnya, Kamis (8/10).
Ia menjelaskan, pada hari-hari normal, penerimaan pajak dari sektor perhotelan di Kota Mataram berada di kisaran Rp2 miliar. Dengan meningkatnya aktivitas perhotelan selama MotoGP Mandalika 2026, penerimaan pajak diproyeksikan ikut mengalami kenaikan.
Untuk memastikan keakuratan pelaporan dan setoran pajak, BKD Kota Mataram melakukan pemantauan terhadap layanan sarapan (breakfast) di sejumlah hotel. Menurut Amrin, metode tersebut dinilai efektif untuk memperkirakan tingkat hunian kamar hotel.
“Pengawasan hotel tidak seberat restoran. Lima menit bisa selesai. Kita tinggal minta data breakfast-nya. Itu sudah menggambarkan tingkat hunian dan okupansi kamar,” jelasnya.
Amrin menambahkan, selama gelaran MotoGP Mandalika 2026, tingkat keterisian hotel berbintang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan hotel kelas melati. Ketika hotel berbintang di Kota Mataram penuh, wisatawan biasanya mencari alternatif akomodasi di wilayah penyangga, seperti Senggigi, Kabupaten Lombok Barat.
“Hotel melati memang kurang diminati. Kalau hotel berbintang di Mataram sudah penuh, tamu justru bergeser ke sebelah, yakni di Senggigi,” ungkapnya.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), I Made Adiyasa, menyampaikan bahwa gelaran MotoGP Mandalika 2026 turut mendongkrak tingkat hunian hotel di Kota Mataram. Menjelang ajang balap tersebut, okupansi hotel berbintang dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen.
Berdasarkan laporan yang diterima AHM, tingkat okupansi hotel bintang tiga ke atas telah mencapai 82 persen. Bahkan, sejumlah hotel mencatat tingkat keterisian kamar hingga 97 persen.
Beberapa hotel bintang tiga dan empat, seperti Prime Park, Astoria, Golden Palace, Lombok Raya, dan Aston Inn, dilaporkan telah mencatat tingkat keterisian kamar penuh. Tingginya okupansi pada segmen tersebut mayoritas berasal dari tamu korporat.
Sementara itu, hotel bintang dua ke bawah serta akomodasi kelas melati masih memiliki ketersediaan kamar. Tingkat okupansi pada segmen tersebut berada di kisaran 60 persen.
Secara keseluruhan, Adiyasa menyebutkan rata-rata okupansi harian hotel di Kota Mataram mencapai 72 persen. Pergerakan tamu diperkirakan terkonsentrasi pada periode menginap 9–12 Oktober 2026.
“Puncak kepadatan kamar kemungkinan terjadi pada 10 dan 11 Oktober,” pungkasnya. (pan)



