BerandaHEADLINEInflasi Belum Bisa Ditekan

Inflasi Belum Bisa Ditekan


INFLASI daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga September 2026 belum bisa ditekan.


Hingga kini, inflasi NTB tercatat berkisar di angka 4,18 persen, di atas rata-rata nasional yang berkisar di angka 3,28 persen. Angka 4 persen inflasi itu juga tidak sesuai dalam target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), yaitu sekitar 3,5 persen.


Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, Lalu Wiranata, mengatakan dalam menekan angka inflasi, pihaknya berupaya menambah pasokan sejumlah komoditas penting, termasuk mengantisipasi kelangkaan pasokan semen.


Pihaknya mencatat, kenaikan harga utamanya disebabkan karena kurangnya pasokan dan transportasi yang kurang memadai. Tercatat pada tingkat inflasi di beberapa wilayah yang lokasinya cukup jauh dari pusat kota, seperti di Bima, Dompu, Kabupaten Lombok Utara, serta wilayah Lombok Timur bagian selatan.
“Kendala transportasi umumnya memicu kenaikan harga di daerah-daerah tersebut. Wilayah Bima mencatat kenaikan paling tinggi, yakni di atas 4 persen,” ujarnya, Senin (19/10).


Ia menyatakan, sebagai langkah konkret, pihaknya telah mengoordinasikan hal ini bersama Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri melalui Direktorat Pengawasan Bapokting (Barang Pokok dan Penting). Ia meminta produsen dan distributor segera menambah pasokan komoditas ke daerah-daerah yang memiliki distribusi kurang memadai.


Selain bahan pokok pangan, kelangkaan pasokan semen sempat menyita perhatian serius karena berdampak pada kenaikan inflasi.


“Gangguan produksi pabrik yang tidak menerima pasokan batu bara secara optimal menyebabkan kelangkaan ini. Kondisi tersebut sempat mengejutkan pemerintah, mengingat kebutuhan semen biasanya mencapai 40.000 ton menjelang akhir tahun untuk menunjang berbagai proyek pemerintah serta memulai pembangunan di era kepemimpinan kepala daerah baru,” tambahnya.


Selain masalah bahan baku batu bara, pengelola juga mengalami kendala operasional di pelabuhan pengiriman, seperti kerusakan alat packing (pengemasan) semen di Lembar. Menyikapi persoalan ini, Wiranata mengatakan kementerian terkait telah memanggil para pengelola pabrik untuk memastikan ketersediaan kuota semen bagi daerah.


Saat ini, distributor dilaporkan mulai melancarkan kembali pengiriman semen, di mana petugas di Pelabuhan Lembar kini bisa langsung mengemas pasokan semen curah tersebut.


Sebelumnya Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Wahyudin, mengatakan inflasi tahunan pada September 2026 masih berada di level tinggi. Secara tahunan, inflasi NTB mencapai 4,18 persen, dengan tekanan harga terutama berasal dari kelompok makanan serta sejumlah komoditas dan tarif yang mengalami kenaikan. Inflasi tahunan tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 113,26.


Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 4,76 persen, sedangkan terendah di Kota Mataram sebesar 3,73 persen. Tekanan inflasi terjadi pada seluruh 11 kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,06 persen, disusul makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,18 persen.


Sementara kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga naik 3,46 persen; transportasi 3,70 persen; informasi, komunikasi dan jasa keuangan 3,30 persen; serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,47 persen.
Kelompok lainnya juga mengalami kenaikan, yakni pakaian dan alas kaki 0,31 persen, perlengkapan rumah tangga 2,32 persen, kesehatan 1,57 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 2,87 persen, serta pendidikan 1,43 persen.


Secara bulanan, inflasi NTB pada September tercatat 0,36 persen, melandai dibandingkan Agustus yang mencapai 0,57 persen. Sementara inflasi tahun kalender mencapai 2,72 persen. (era)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN














VIDEO