Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram menilai kualitas literasi dan numerasi sejumlah sekolah masih rendah.Sejumlah siswa di tingkat sekolah dasar ditemukan belum bisa membaca.
Berdasarkan klasifikasi, 10 sekolah dengan mutu literasi dan numerasi yang kurang. Sebaliknya, 10 sekolah lain masuk kategori literasi-numerasi yang tinggi.
“Disitu diklasifikasi ada 10 yang tinggi, ada 10 satuan pendidikan yang literasi numerasinya rendah. Ini yang kita dorong ke satuan pendidikan yang memang berdasarkan rapor pendidikan mereka itu rendah,” kata Kepala Disdik Kota Mataram, H. Yusuf, saat dikonfirmasi, Selasa (20/10).
Yusuf menyampaikan, temuan siswa sekolah dasar yang tidak bisa membaca tidak hanya dijumpai pada siswa kelas I-III saja. Sejumlah siswa kelas IV hingga V SD di Kota Mataram, juga didapati belum menguasai kemampuan dasar seperti membaca.
Maraknya siswa tidak bisa membaca ditengarai terjadi akibat pola pembelajaran terdahulu yang cenderung menerapkan sistem wajib naik kelas tanpa memperhatikan kriteria ketuntasan minimal (KKM).
“Ada juga siswa yang kelas IV dan V. Hal ini disebabkan mekanisme naik kelas terus,” ujarnya.
Yusuf meminta sekolah untuk segera memberikan pendampingan dan bimbingan belajar secara khusus bagi siswa yang tertinggal. Para guru diminta ekstra dalam mendampingi para siswa agar cepat membaca maupun berhitung dengan baik.
Di sisi lain, Yusuf mendukung kebijakan pengetatan syarat kenaikan kelas. Sekolah diminta tidak memaksakan menaikkan kelas siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan akademik maupun capaian karakter.
“Anak-anak yang belum bisa baca tulis dan belum bisa berhitung dengan baik, belum memenuhi syarat kriteria kenaikan kelas, ya sebaiknya nggak usah dinaikkan,” jelasnya.
Kementerian Pendidikan, Dasar, dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan rencana kebijakan untuk mengakhiri aturan siswa otomatis naik kelas. Rencana kebijakan itu disiapkan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Pasalnya, kebijakan otomatis naik kelas dinilai membuat iklim pembelajaran melemah. Siswa dianggap tidak terdorong untuk berusaha lebih keras karena mereka dipastikan tetap naik kelas, terlepas dari performa akademik yang ditunjukkan selama pembelajaran.
Pemerintah menekankan pentingnya membangun jiwa rajin belajar serta menumbuhkan kesiapan siswa untuk berkompetisi demi menciptakan generasi yang tangguh. (sib)



