BerandaNTBLOMBOK BARATPesantren LHIBS Tanamkan kepada Santri Berani Bicara Kesalahan di Pondok

Pesantren LHIBS Tanamkan kepada Santri Berani Bicara Kesalahan di Pondok

Giri Menang (Suara NTB) – Pondok Pesantren Lenterahati Islamic Boarding School (LHIBS) menanamkan prinsip keberanian kepada santri dalam menyampaikan kebenaran. Lembaga pendidikan Islam ini menegaskan bahwa suara santri harus berani bicara atau speak up. Dan mereka harus mendapat ruang, termasuk ketika mereka menemukan perilaku atau kejadian yang dinilai bertentangan dengan norma, adab, dan kesusilaan di lingkungan pesantren.

Pendiri sekaligus Pimpinan atau Mudirul ‘Aam LHIBS, Dr. MA. Muazar Habibi, mengatakan kejujuran tidak boleh dikalahkan oleh rasa takut, terlebih ketika santri ingin menyampaikan pengalaman atau melaporkan sesuatu yang dianggap tidak semestinya terjadi.

Menurutnya, keberanian berbicara atau speak up perlu ditanamkan agar santri terbiasa menyampaikan fakta secara jujur, sekaligus membangun lingkungan pendidikan yang terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan.

“Berbicara tentang kebenaran itu harus jujur. Sepahit apa pun yang dirasakan, dilihat, maupun didengar, terutama jika berkaitan dengan kejadian di pondok pesantren yang tidak sesuai dengan norma, adab, dan kesusilaan, mereka harus berani menyampaikan,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Muazar menegaskan, pihak pesantren tidak boleh menjadikan nama baik lembaga sebagai alasan untuk menutup-nutupi kesalahan. Setiap laporan yang disampaikan santri maupun orang tua, menurutnya, perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan yang jelas agar persoalan dapat diketahui berdasarkan fakta.

Ia menjelaskan, komunikasi rutin antara santri dan orang tua menjadi salah satu jalur untuk menyampaikan berbagai pengalaman selama berada di lingkungan pesantren. Apabila muncul laporan, pihak keluarga dapat meminta klarifikasi atau tabayyun kepada pengelola pesantren.

“Kalau ada informasi yang disampaikan anak kepada orang tuanya, kemudian orang tua melakukan tabayyun kepada kami, saat itu juga kami mengumpulkan para asatidz, terutama tiga pimpinan, untuk melakukan investigasi dan mengambil tindakan sesuai persoalannya,” katanya.

Ia menambahkan, hasil pemeriksaan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Apabila ditemukan kesalahan dari pihak pesantren, pihaknya menyatakan siap mengakui kekeliruan dan menyampaikan permohonan maaf secara formal.

“Kalau memang kami salah, secara formal kami bersedia meminta maaf. Bagi kami, yang terpenting adalah persoalan itu diperiksa dan diselesaikan dengan benar, bukan ditutupi,” tegasnya.

Komitmen terhadap keterbukaan tersebut, lanjut Muazar, tidak hanya berlaku untuk persoalan besar. Kejadian sehari-hari yang melibatkan santri juga menjadi perhatian, terutama ketika berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan anak selama mengikuti pendidikan di pesantren.

Ia mencontohkan insiden seorang santri yang terjatuh dan mengalami cedera pada tangan. Berdasarkan penjelasan yang disampaikannya, kejadian tersebut diduga berlangsung saat bercanda, kemudian diketahui melalui rekaman kamera pengawas atau CCTV.Setelah kejadian itu, tangan santri sempat ditangani karena diduga mengalami keseleo. Namun, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kondisi cedera dan mengetahui bagaimana peristiwa tersebut terjadi.

Muazar mengatakan, pihak pesantren tetap melakukan penelusuran meskipun insiden itu dinilai tidak disengaja. Baginya, pemeriksaan diperlukan agar kejadian serupa dapat diantisipasi dan keselamatan santri tetap menjadi perhatian.

“Anak terjatuh saja tetap kami perhatikan. Kami telusuri bagaimana kejadiannya, termasuk melalui CCTV, untuk mengetahui apakah ada unsur kesengajaan atau memang terjadi karena kecelakaan,” ucapnya.

Selain mengevaluasi kejadian, pihak pesantren juga mengingatkan petugas kebersihan agar memastikan area aktivitas santri tetap aman, termasuk menghindari lantai basah yang berpotensi menyebabkan anak terpeleset.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman tidak hanya bergantung pada aturan tertulis, tetapi juga pada perhatian terhadap hal-hal kecil yang dapat memengaruhi keselamatan santri.

Di sisi lain, Muazar menyebut kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga kenyamanan santri selama berada di pesantren. Seluruh unsur yang terlibat di lingkungan LHIBS, menurutnya, perlu ikut menjaga kebersihan dan mengurangi risiko kecelakaan.

Ia menilai lingkungan yang tertata, bersih, dan aman harus berjalan beriringan dengan budaya komunikasi yang terbuka. Dengan demikian, santri tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik dan keagamaan, tetapi juga belajar menyampaikan pendapat, mengungkapkan persoalan, serta memahami pentingnya tanggung jawab.

“Lingkungan pesantren harus kami jaga dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya kebersihannya, tetapi juga bagaimana anak-anak merasa aman dan berani menyampaikan sesuatu ketika ada hal yang perlu diperbaiki,” katanya.

Muazar menegaskan, keberanian santri untuk berbicara perlu diimbangi dengan kesediaan pengelola untuk mendengar, memeriksa, dan memberikan penyelesaian berdasarkan fakta. Pola komunikasi tersebut diharapkan dapat membangun kepercayaan antara santri, orang tua, dan pihak pesantren.

Menurutnya, pendidikan yang baik bukan berarti meniadakan kemungkinan terjadinya kesalahan. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana setiap persoalan ditangani secara terbuka, proporsional, dan bertanggung jawab.

“Jangan sampai anak takut menyampaikan kebenaran. Kalau ada sesuatu yang tidak sesuai, sampaikan. Kami juga harus siap mendengar, melakukan pemeriksaan, dan memperbaiki apa yang memang perlu diperbaiki,”pungkasnya. (her)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN















VIDEO