Oleh: Dr. Habiburrahman, M.Pd. (Wakil Dekan III FKIP Ummat bidang kemahasiswaan dan AIK)
Setiap 28 Oktober, kita tidak hanya mengenang sebuah peristiwa. Kita mengenang sebuah keajaiban linguistik.
Di sebuah negeri kepulauan dengan lebih dari 700 bahasa daerah, dengan jurang budaya, agama, dan suku yang menganga, para pemuda pada tahun 1928 sepakat pada satu hal yang paling mendasar: Bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia bukan bahasa mayoritas saat itu. Ia adalah bahasa minoritas – bahasa pergaulan, bahasa pasar. Namun justru karena itulah ia dipilih. Para pemuda sadar, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah simbol ilmu pengetahuan. Dan ilmu itulah yang mengangkat martabat bangsa.
Dalam momentum Sumpah Pemuda tahun ini, sudah sepatutnya kita merefleksikan kembali hakikat bahasa dalam tiga dimensi yang saling menguatkan.
1. Dimensi Kebangsaan: Bahasa Sebagai Simbol Persatuan
Dalam dimensi kebangsaan, bahasa adalah anugerah Allah yang paling strategis untuk Indonesia.
Penjajah bertahan dengan politik divide et impera – memecah belah dengan perbedaan bahasa dan suku. Para pemuda membalasnya bukan dengan senjata, melainkan dengan gagasan: menyatukan ide, gagasan untuk merdeka dalam satu bahasa.
Bahasa Indonesia menjadi bukti bahwa persatuan tidak harus menghapus keberagaman. Ia tidak mematikan bahasa Jawa, Sunda, Bugis, atau Bali. Ia justru menjadi rumah besar yang menaungi semuanya.
Hari ini tantangannya berbeda. Ancaman persatuan bukan lagi penjajah, melainkan algoritma yang mengotak-kotakkan kita dalam gelembung informasi, hoaks yang memecah dengan bahasa kebencian, dan rasa rendah diri yang membuat kita lebih bangga berbahasa asing daripada bahasa sendiri.
Jika pada 1928 bahasa mempersatukan ide untuk merdeka, maka pada 2026 bahasa harus kembali mempersatukan ide untuk berdaulat – berdaulat dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi.
2. Dimensi Keummatan: Bahasa Sebagai Spirit Ta’awun
Dalam dimensi keummatan, bahasa adalah media ta’awun – tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Allah berfirman: Wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa – Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan.
Betapa indahnya bahasa Indonesia dalam konteks ini. Ia menjadi bahasa penghubung yang memungkinkan orang Aceh berkolaborasi dengan orang Papua, seorang muslim berdiskusi dengan seorang kristiani, seorang santri bekerja sama dengan seorang insinyur, tanpa kehilangan jati diri masing-masing.
Bahasa yang mempersatukan beragam budaya, agama, dan suku ini adalah modal sosial terbesar kita. Ia adalah spirit gotong royong yang diformulasikan dalam kata-kata.
Namun spirit ta’awun ini akan mati jika bahasa kita miskin ilmu. Bahasa yang hanya berisi ghibah, hujatan, dan umpatan di media sosial tidak akan pernah melahirkan peradaban. Bahasa keummatan harus diisi dengan bahasa ilmu: bahasa yang mengajak berpikir kritis, berinovasi, dan membangun solusi, bukan bahasa yang memprovokasi perpecahan.
3. Dimensi Keagamaan: Bahasa Sebagai Simbol Ilmu yang Memuliakan Manusia
Inilah dimensi yang paling dalam. Dalam dimensi keagamaan, bahasa adalah simbol ilmu pengetahuan yang mengangkat harkat martabat manusia, bahkan di hadapan para malaikat.
Kita ingat dialog agung dalam Al-Qur’an. Ketika Allah hendak menjadikan manusia sebagai khalifah, para malaikat mempertanyakan. Lalu Allah mengajarkan kepada Adam al-asmaa kullaha – nama-nama, bahasa, ilmu pengetahuan seluruhnya. Dan dengan ilmu itulah, dengan bahasa itulah, Adam dimuliakan melebihi malaikat.
Di sinilah letak martabat itu. Manusia mulia bukan karena kekuatannya, bukan karena hartanya, tetapi karena ilmunya yang diwujudkan melalui bahasa.
Bahasa Arab dimuliakan karena menjadi bahasa Al-Qur’an, bahasa ilmu wahyu. Bahasa Indonesia harus kita muliakan karena menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang mengangkat derajat bangsa Indonesia dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka, dari bangsa yang hanya menjadi objek menjadi subjek peradaban dunia.
Maka menjaga bahasa Indonesia berarti menjaga martabat kita di hadapan Allah dan di hadapan bangsa lain.
PR Pemuda Hari Ini
Sumpah Pemuda 1928 adalah sumpah bahasa. Pemuda hari ini perlu sumpah baru: sumpah untuk tidak memiskinkan bahasa.
Jangan biarkan bahasa Indonesia hanya menjadi bahasa pergaulan, tetapi jadikan ia bahasa ilmu pengetahuan. Tuliskan riset-riset terbaik kita dalam bahasa Indonesia. Ciptakan istilah-istilah teknologi dan kedokteran dalam bahasa Indonesia. Hidupkan literasi di kampung-kampung dengan bahasa Indonesia yang mencerdaskan.
Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu bersatu dalam satu bahasa, tetapi bangsa yang mampu mengangkat martabatnya ke puncak peradaban melalui bahasa itu.
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Mari berbahasa dengan ilmu, berilmu dengan bahasa.



