Mataram (Suara NTB) — Sumpah dokter menandai peralihan dari pendidikan menuju tanggung jawab profesional yang lebih besar. Setelah menempuh proses pendidikan dan pembelajaran klinis, para lulusan kini bersiap menjalankan profesi yang menuntut penguasaan ilmu, keterampilan, dan komitmen untuk melayani masyarakat. Amanah tersebut diemban oleh 14 dokter baru Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram (Unram) yang mengucapkan sumpah dokter ke-58 di Prime Park Hotel and Convention, Selasa (27/10/2026).
Dengan bertambahnya 14 dokter baru tersebut, Unram telah meluluskan 1.148 dokter. Capaian ini menjadi bagian dari kontribusi universitas dalam menyiapkan tenaga medis, sekaligus membawa tanggung jawab untuk memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan dapat diterapkan secara profesional dan bermanfaat bagi masyarakat.
Mewakili Rektor Unram, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Sitti Hilyana, M.Si., menegaskan bahwa sumpah dokter bukan sekadar penanda keberhasilan akademik, melainkan janji profesi yang akan diuji dalam praktik sehari-hari.
“Jadilah dokter yang cerdas dalam ilmu, terampil dalam tindakan, lembut dalam pelayanan, dan teguh dalam mempertahankan kebenaran,” pesannya.
Ia juga menekankan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penanganan penyakit. Dokter perlu memahami apa yang dialami pasien, mendengarkan kekhawatiran mereka, dan membantu dengan tetap menghormati martabat setiap orang. Dengan demikian, kompetensi medis berjalan beriringan dengan empati dan tanggung jawab kemanusiaan.
Pengabdian yang Menjangkau Wilayah Kepulauan
Tanggung jawab seorang dokter juga tercermin dari kesediaannya melayani masyarakat di berbagai wilayah. Pelayanan kesehatan tidak hanya dibutuhkan di rumah sakit besar dengan fasilitas lengkap, tetapi juga di daerah terpencil, wilayah perbatasan, dan pulau-pulau kecil yang menghadapi tantangan akses layanan.
Prof. Nana mengingatkan bahwa nilai pengabdian tidak ditentukan oleh tempat bertugas ataupun besarnya penghasilan. Di mana pun menjalankan profesi, dokter diharapkan tetap menjaga kompetensi, integritas, dan komitmen terhadap keselamatan pasien.
Pesan tersebut sejalan dengan perhatian Dekan FKIK Unram, Dr. dr. Arfi Syamsun, Sp.KF., M.Si.Med., terhadap kesiapan lulusan menghadapi tantangan profesi. Menurutnya, pendidikan kedokteran tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga perlu membangun kesiapan mental, spiritual, dan karakter untuk menjalankan tanggung jawab sebagai dokter.
Arfi mengingatkan bahwa lulusan kedokteran memiliki beragam jalur untuk berkontribusi. Selain menjalani praktik klinis dan melanjutkan pendidikan spesialis, dokter dapat menempuh studi lanjut di luar negeri untuk memperluas pengetahuan dan membawa pengalaman tersebut kembali ke Indonesia. Kontribusi juga dapat diberikan melalui birokrasi dan perumusan kebijakan kesehatan, termasuk dengan mengambil peran dalam upaya memperbaiki sistem pelayanan.
Secara khusus, Arfi mendorong para dokter untuk tidak hanya berorientasi pada kota-kota besar. Ia berharap dokter yang berasal dari Pulau Sumbawa dapat kembali dan berkontribusi bagi daerah asalnya, sekaligus mengingatkan pentingnya kehadiran tenaga medis di pulau-pulau kecil.
Kolaborasi untuk Pendidikan Kedokteran yang Berkualitas
Direktur RSUD Provinsi NTB, drg. H. Asrul Sani, M.Kes. menyampaikan apresiasi atas sinergi yang telah terjalin antara Unram dan RSUD Provinsi NTB dalam mendukung pendidikan kedokteran. Ia berharap kolaborasi tersebut terus diperkuat untuk meningkatkan kualitas kerja sama dan memberikan manfaat bagi pendidikan maupun pelayanan kesehatan.
Kemitraan antara perguruan tinggi dan rumah sakit memiliki peran penting dalam menyiapkan dokter yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami tuntutan praktik klinis dan tanggung jawab terhadap pasien. Melalui proses pembelajaran tersebut, calon dokter memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membangun sikap profesional yang dibutuhkan dalam pelayanan.
Bagi Unram, tanggung jawab pendidikan kedokteran tidak berhenti pada kelulusan mahasiswa. Kompetensi dan nilai yang dibangun selama pendidikan diharapkan terus tercermin dalam praktik profesi, sehingga keberhasilan akademik dapat berlanjut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Di Balik Gelar Dokter, Ada Dukungan Keluarga
Perwakilan dokter baru, dr. Ulfa Ramdhani, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut bukan semata-mata hasil perjuangan para lulusan. Dukungan keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan panjang mereka dalam menempuh pendidikan kedokteran.
“Gelar dokter yang kami raih hari ini bukan hanya pencapaian kami, tetapi juga persembahan cinta dan terima kasih untuk orang tua dan keluarga yang selalu mendukung perjalanan kami,” ungkapnya.
Apresiasi kepada keluarga menjadi pengingat bahwa pencapaian profesional tidak berdiri sendiri. Di balik setiap lulusan, ada dukungan dari banyak pihak yang turut memungkinkan proses pendidikan berlangsung hingga tuntas.
Dari Pendidikan Menuju Dampak bagi Masyarakat
Penguatan pendidikan dokter yang kompeten dan berintegritas berkaitan erat dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui kontribusi tenaga medis dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Sementara itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan rumah sakit dalam menyiapkan tenaga profesional turut mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui pendidikan kedokteran yang terhubung dengan kebutuhan praktik klinis.
Bertambahnya 14 dokter baru membawa Unram pada capaian 1.148 dokter lulusan. Namun, makna pendidikan kedokteran tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, melainkan juga dari bagaimana ilmu, keterampilan, dan nilai profesi diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Melalui pesan integritas, dorongan untuk mengabdi di wilayah kepulauan, serta penguatan kolaborasi pendidikan klinis, para dokter baru diingatkan bahwa sumpah yang diucapkan hari ini akan menemukan maknanya dalam tindakan sehari-hari.
Sebab, menjadi dokter bukan hanya tentang menyelesaikan pendidikan, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan, mempertanggungjawabkan setiap keputusan, dan menggunakan ilmu untuk melayani kehidupan. (ron)



