Mataram (Suara NTB) – Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman GB (14), salah satu korban meninggal dunia dalam insiden penganiayaan dan pembacokan yang diduga dilakukan sekelompok remaja di Jalan Udayana, Mataram, Minggu (25/10). GB dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bintaro, Ampenan, Rabu (28/10).
GB merupakan satu dari tiga korban dalam insiden tersebut. Siswa kelas VII SMP Negeri 3 Mataram itu meninggal dunia pada usia 14 tahun setelah menjadi korban aksi kekerasan tersebut.
Pantauan Suara NTB sekitar pukul 12.10 Wita, keluarga, kerabat, guru, dan rekan-rekan sekolah mulai berdatangan untuk mengikuti salat jenazah di salah satu masjid di Kampung Melayu, Kelurahan Ampenan Tengah. Setelah disalatkan, jenazah kemudian diantarkan menuju TPU Bintaro untuk dimakamkan.
Tangis keluarga, kerabat, dan guru pecah saat jenazah mulai dimasukkan ke liang lahat. Sejumlah pelayat tampak tak kuasa menahan kesedihan ketika mengantarkan GB ke peristirahatan terakhirnya.
Di tengah suasana duka tersebut, dua rekannya yang juga menjadi korban dalam insiden itu terlihat ikut mengantarkan jenazah GB, meskipun masih dalam kondisi terluka.
Wali kelas VII-2 SMP Negeri 3 Mataram, Rudi, mengenang GB sebagai sosok siswa yang baik dan aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Menurutnya, GB juga bergaul dengan baik bersama teman-temannya.
“Seperti siswa pada umumnya, aktif belajar dan bercanda dengan temannya. Kalau ada kegiatan di sekolah, almarhum ikut berpartisipasi,” ujar Rudi sambil menahan tangis seusai pemakaman.
Rudi mengaku sangat terpukul saat mendengar kabar salah satu siswa yang dikenalnya menjadi korban penganiayaan dan pembacokan hingga meninggal dunia. Ia mengaku tidak bisa berkata-kata saat menerima kabar duka tersebut.
Terakhir kali, Rudi berkomunikasi dengan GB pada Jumat (23/10), dua hari sebelum insiden tersebut terjadi.
Selain aktif dalam kegiatan sekolah, GB juga dikenal menyukai olahraga sepak bola. Kegemarannya terhadap olahraga tersebut menjadi salah satu hal yang diingat Rudi dari sosok almarhum. “Dia sangat senang di bidang sepak bola,” tuturnya.
Rudi menambahkan, GB berasal dari keluarga kurang mampu. Dalam kesehariannya di sekolah, almarhum dikenal menjalani kehidupan secara sederhana. (pan)



