Selong (Suara NTB) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Lombok Timur (Lotim), menggelar diskusi akademik untuk memperkokoh tradisi keilmuan dan memperkuat khazanah Islam wasathiyah di lingkungan perguruan tinggi Islam.
Diskusi bertema “Penguatan Turast Washathyiyyatul Islam di Kampus IAIH Hamzanwadi Pancor: Mengokohkan Tradisi dan Perkuat Khazanah Keilmuan di Perguruan Tinggi Islam” tersebut berlangsung di lantai III kampus IAIH Hamzanwadi Pancor. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, serta dihadiri sejumlah pejabat dan dosen di lingkungan kampus.
Ketua LP2M IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hadi, dalam paparannya menyoroti persoalan mendasar yang dihadapi dunia akademik saat ini, termasuk di lingkungan IAIH Hamzanwadi, yakni melemahnya penguasaan terhadap turats atau khazanah keilmuan Islam, khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam wasathiyah.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena pemahaman terhadap Islam wasathiyah dinilai semakin tergerus. Dampaknya, terjadi stagnasi nilai-nilai spiritualitas serta melemahnya semangat untuk menjaga dan merawat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan akademik.
“Masalah yang sangat fundamental dewasa ini yang dihadapi dunia akademik, termasuk kampus IAI Hamzanwadi, adalah lemahnya penguasaan turats-turats Islam wasathiyah,” ujarnya.
Abdul Hadi menegaskan, perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan Islam. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga harus berperan sebagai ruang untuk merawat, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai keislaman yang moderat kepada generasi berikutnya.
Ia menilai, khazanah keilmuan yang mulai terabaikan perlu dihidupkan kembali melalui penguatan tradisi akademik dan spiritualitas di lingkungan kampus. Terlebih, perguruan tinggi Islam memiliki posisi penting sebagai salah satu benteng dalam menjaga pilar-pilar Islam wasathiyah.
Karena itu, diperlukan revitalisasi ajaran dan pemahaman Islam wasathiyah dengan mengembalikan khazanah turats ke dalam tradisi akademik kampus. Upaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi juga tercermin dalam sikap, perilaku, dan cara sivitas akademika merespons berbagai persoalan kehidupan.
Menurutnya, perkembangan zaman harus diimbangi dengan penguatan fondasi keilmuan dan nilai-nilai spiritualitas agar perguruan tinggi Islam tetap mampu menjalankan perannya dalam membentuk insan akademik yang berilmu, berkarakter, dan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.
Melalui diskusi tersebut, LP2M IAIH Pancor berharap tumbuh kesadaran kolektif di kalangan dosen dan sivitas akademika untuk kembali menghidupkan tradisi kajian turats, memperkuat pemahaman Islam wasathiyah, serta menjadikan khazanah keilmuan Islam sebagai bagian penting dalam pengembangan pendidikan tinggi. (rus)



