Oleh: Lalu Gita Ariadi
Berita terbaru tentang persiapan NTB sebagai tuan rumah pelaksanaan PON XXII tahun 2028 menarik untuk disimak.
Perjuangan awal yang heroik ingin jadi tuan rumah PON XXII rasanya seakan anti klimak. Layu sebelum berkembang.
Ketua KONI Pusat lewat Wakil Ketua Umum I – Mayjen TNI ( Purn ) Suwarno meminta Pemprov NTB siapkan dana 1 Triliun untuk pelaksanaan PON. Sementara untuk renovasi venue dan pembangunan fasilitas olahraga lainnya membutuhkan tambahan angggaran. Semakin banyak cabor yang dilaksanakan akan semakin banyak anggaran yang disiapkan daerah. Tidak ada sharing antara pusat dan daerah.
Sekilas ke belakang, dulu KONI dan Pemprov NTB berjuang ingin jadi tuan rumsh PON XXI ataupun PON XXII justru adalah untuk mengetuk pintu pusat. Mohon bantuan, dukungan dan kepedulian sekaligus affirmative action untuk NTB.
Ketika Presiden Jokowi menetapkan KEK Mandalika sebagai venue MotoGP tahun 2021, NTB langsung mendapatkan manfaatnya. Runway BIZAM diperpanjang dari 2.750 meter menjadi 3.300 meter. Terminal domestik dan internasional BIZAM ditingkatkan kapasitas dan kualitasnya. Bypass Jalan H Gatot Suherman dibangun, jalan eksisting lewat Sengkol dilebarkan. Pelabuhan Gili Mas dibangun. Jaringan listrik dan komunikasi ditingkatkan keandalannya. Semua kementerian – lembaga cawe-cawe ikut dandani Mandalika sesuai tupoksinya.
Geliat ekonomi sebelum, pada saat dan pasca-event meningkat. Ratusan ribu orang datang. Atlet, ofisial, supporter, wartawan, wisatawan tumpah ruah. Hotel penuh, rental mobil laku, UMKM kuliner dan sovenir panen.
Jutaan mata dan telinga pemirsa dan pendengar saksikan tayangan TV, siaran radio, koran juga medsos. Sungguh branding dan promosi yang positif dan efektif bagi daerah.
Itu adalah contoh madu, manisnya sebagai tuan rumah sebuah event olahraga baik single event apalagi yang multi event seperti PON, SEA Games ASIAN Games, maupun Olimpiade.
NTB ingin jadi tuan rumah PON tentu bukan sekedar gaya – gayaan. Bukan juga merasa sudah kaya, sehingga akan mampu siapkan triliunan rupiah untuk dukungan penyelenggaraan PON dan penyiapan venue. Tidak begitu. Justru sebaliknya.
NTB Sadar. NTB daerah miskin dengan keterbatasan APBD. Tapi NTB ingin maju. Ingin sejajar dengan daerah lain. Setidaknya melalui prestasi olahraga. Jadi tuan rumah adalah pilihan strategis akselerasi pembangunan keolahragaan di daerah.
Dari segi peringkat PON, NTB awalnya selalu berada di klasemen papan bawah. Jauh di luar peringkat 10 besar nasional. Meski memiliki bibit atlet dengan talenta bakat alam yang luar biasa, namun fasilitas sarana prasarana olahraganya terbatas. NTB tentu belum mampu bersaing di level nasional apalagi dunia.
Dengan jadi tuan rumah, seperti halnya daerah-daerah lain yang pernah jadi tuan rumah, NTB berharap dibantu. Dibangunkan venue, sarana prasarana keolahragaan yang memadai.
Dengan venue dan sarana prasarana yang memadai, atlet NTB dengan bakat alam yang luar biasa akan digembleng untuk mencapai puncak prestasi yang nantinya bisa ikut berkontribusi harumkan nama bangsa. Seperti sprinter Lalu Muhammad Zohri, Pemain voli pantai Agus Salim dan kawan-kawan Karateka Zigi dan lain-lain.
Meski NTB masih menghadapi berbagai keterbatasan, pengurus KONI daerah dan pengurus cabor, pelatih dan atlet tetap memiliki semangat tinggi untuk maju dan berprestasi.
Dari klasemen papan bawah NTB terus merangkak naik menuju papan tengah. Pada PON XVII tahun 2008 di Kaltim, NTB sudah berada pada papan tengah peringkat 14 nasional.
Pada PON XVIII tahun 2012 di Riau, NTB mulai diperhitungkan dan masuk peringkat 10 besar nasional dengan 11 emas, 5 perak, 8 perunggu. Prestasi ini dapat diperbaiki lagi pada PON XIX tahun 2016 di Jabar. NTB berada pada posisi 9 nasional dengan 11 emas, 10 perak, 18 perunggu.
Puncaknya di PON XX tahun 2021 di Papua. Meski tetap berada pada peringkat 9 tapi perolehan medali emasnya meningkat jadi 15 emas (target 17), 11 perak, 12 perunggu. Ini rekor medali terbanyak dan disebut sejarah baru olahraga NTB. NTB Provinsi kecil tapi nyalinya besar. Sehingga mampu sejajar prestasi olahraganya dengan Provinsi besar lainnya.
Di tengah euforia, tercetus kuat semangat untuk terus berprestasi dan tetap ingin jadi tuan rumah PON. Berharap di PON XXI tahun 2024, NTB bisa jadi tuan rumah dan berada di posisi 7 nasional. Dalam open bidding, NTB yang maju bersama Provinsi Bali kalah oleh koalisi DI Aceh dan Provinsi Sumut yang kemudian di tunjuk sebagai tuan rumah PON XXI.
Meski gagal jadi tuan rumah PON XXI, NTB tidak patah semangat. NTB terus berjuang memajukan olahraga. Terus ikhtiar lahirkan banyak atlet kaliber nasional dan internasional dan tetap berminat sebagai tuan rumah PON XXII tahun 2028 dengan target peringkat V Nasional.
NTB dan NTT, dari awal sangat optimis di tunjuk sebagai tuan rumah PON XXII. Secara geopolitik, inilah saatnya NTB dan NTT harus jadi tuan rumah PON. Kenapa ?
Selama 21 kali PON digelar di republik ini, Pulau Jawa sudah 14 kali jadi tuan rumah. Di luar Pulau Jawa, Pulau Sumatera 4 kali jadi tuan rumah. Pulau Kalimantan 1 kali jadi tuan rumah. Pulau Sulawesi 1 kali jadi tuan rumah. Indonesia Timur ( Maluku dan Papua ) 1 kali jadi tuan rumah.
Yang belum pernah jadi tuan rumah adalah kawasan Indonesia Tengah bagian tenggara yaitu kawasan Sunda Kecil.
Dengan ditetapkannya NTB dan NTT sebagai tuan rumah, tentu disambut suka cita. Namun sayang di awal penetapan itu sempat juga terlintas rasa cemas dan khawatir.
Terbitnya Inpres 1 tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Dalam Pelaksanaan APBN dan APBD tahun angggaran 2025, nasib NTB dan NTT sebagai tuan rumah PON XXII seakan lampu kuning. Berat rasanya jadi tuan rumah di saat negara sedang kencangkan ikat pinggang. Pembangunan infrastruktur dibatasi karena berfokus antara lain ke program MBG.
Tambah berat lagi rasanya ketika saudara kembar tuan rumah PON XXII yaitu Provinsi NTT diguncang musibah gempa bumi 7 SR, yang hari-hari ini tentu sedang fokus tangani rehab rekon pasca-bencana di tengah keterbatasan APBD.
Di tengah rasa cemas, khawatir dan prihatin, rasanya jadi nano-nano bercampur aduk dengan keluarnya statemen Waketum I KONI Pusat itu.
Bagaimana Pemda NTB harus siapkan APBD 1 Triliun Rupiah untuk dukungan penyelenggaraan PON ? Belum lagi bila harus perbaiki venue harus rogoh APBD lebih dalam lagi ? Di saat NTB dihadapkan dengan angka kemiskinan yang masih tinggi?
Data BPS 2024-2025 mencatat, NTB masih masuk 10 besar provinsi termiskin di Indonesia. Angka kemiskinan di atas 13%, jauh di atas rata-rata nasional 9%. IPM NTB masih di peringkat bawah, di angka 70-71. Sementara nasional sudah 74. Stunting masih di atas 25% di beberapa kabupaten.
Di Lombok Utara dan Bima, masih banyak sekolah rusak, Puskesmas tanpa dokter, dan jalan kabupaten berlubang. Infrastruktur masih terbatas. Fasilitas kesehatan dan pendidikan masih butuh perhatian. Lapangan kerja terbatas. Musibah dan bencana alam selalu mengintip setiap saat dan lain-lain.
Dalam kondisi seperti ini, bijakkah bila alokasikan Rp 1,5 – 2 triliun dari Rp6 – 7 triliun APBD NTB untuk PON XXII ?
Waktu semakin mepet. Tinggal 2 tahun. Terbayang, betapa akan babak belurnya APBD NTB dan APBD NTT tahun 2027 dan 2028 nanti.
Dengan jumlah APBD yang terbatas, harus dibebani talangan pelaksanaan PON dan renovasi atau pembangunan venue dengan segala fasilitas, kelengkapan dan pernak perniknya.
Sebagai tuan rumah tentu selain harus sukses penyelenggaraan juga harus berpikir tentang sukses prestasi. Lalu dari mana sumber pendanaan untuk sukses prestasi ? Untuk siapkan atlet dan pelatih ? untuk training centre jangka pendek, menengah dan panjang ? Untuk latih tanding ke luar daerah – luar negeri ? Juga untuk iming-iming bonus juara ? Bisa jadi kalau di total, 20 – 30 % APBD habis untuk kegiatan PON.
Lalu bagaimana nasib kebijakan, program dan kegiatan pembangunan di luar PON ? Bypass port to port ? Desa berdaya ? Pokir dan lain-lain.
Mau berharap dukungan dari pihak swasta ? Di NTB juga mungkin di NTT belum ada perusahaan raksasa yang bisa berdonasi dan berkontribusi signifikan untuk support / sponsorship kegiatan olahraga karena NTB dan NTT bukan daerah industri. Di NTB andalannya terbatas hanya ke PT AMNT, PT Bank NTBS dan beberapa lainnya yang bisa dihitung jari. Memang di NTB banyak yang pegang IUP ( Pertambangan ) tapi rata-rata masih tahap eksplorasi.
Akhirnya, kalau masih boleh berharap sekali lagi, bila pemerintah telah berdarah – darah memperjuangkan dan mensukseskan PON XX di ujung timur republik ( Papua ) dan PON XXI di ujung barat republic ( Aceh dan Medan ) dan di daerah-daerah yang pernah jadi tuan rumah PON, maka demi keadilan, demi NKRI, suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap sewajarnya lah pula bila pemerintah pusat mau berdarah-darah kembali membantu NTB dan NTT agar bisa menjadi tuan rumah PON XXII dengan baik.
Bila NTB dan NTT dinilai tidak terlalu siap venue nya bisa saja diambil alih dan disebar pelaksanaan pertandingan beberapa cabor ke Bali atau ke Jakarta yang sudah ada venue nya.
Drama PON XXII ini akhirnya bisa jadi tidak seindah awal bermimpi. Bila terasa berat dan tidak mampu, serahkan saja urusan PON XXII ke KONI pusat. NTB dan NTT jadi tuan rumah mini PON XXII.
NTB bisa sambut dan dukung penuh cabor aerosport yang kadung sudah jatuh cinta dan tetap inginkan NTB sebagai tempat pertandingan aero sport. Demikian juga beberapa cabor lain yang benar-benar tidak membebani keuangan daerah. Atletik di GOR Turide. Surfing atau balap motor di Sirkuit Mandalika dan lain-lain.
PON XXII – 2028 ibarat sesenggak Sasaq :
Selebung batu beleq. Aneh wah kedung ( ditunjuk jadi tuan rumah ) yak ku kembeq ? Ya, lantas kini kita mau bagaimana ?
NTB dan NTT harus benar-benar berhitung untuk menentukan keputusan.
Jadi tuan rumah PON XXII adalah manis madu yang menggairahkan. Tapi, bila salah menakar dan berlebihan justru bisa jadi racun yang melenakan dan lupa atasi berbagai ketertinggalan, kebodohan dan keterbelakangan yang masih ada.
Salam olahraga.
Jakarta, 1.11.2026



