BerandaPENDIDIKANDua Siswa SLBN 1 Mataram Pilih Magang di Hotel

Dua Siswa SLBN 1 Mataram Pilih Magang di Hotel

Mataram (Suara NTB) – Aksesibilitas dunia kerja bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di NTB masih menjadi tantangan. Hambatan yang mereka miliki tentu menjadi rintangan untuk menembus pintu perusahaan.

Didukung sekolah, sejumlah ABK terus berupaya melewati tantangan tersebut. Sambil berharap, perusahaan ke depan lebih terbuka menerimanya. Seperti SLBN 1 Mataram yang mulai mencoba membuka jalan bagi dua siswanya yang tunarungu melalui program magang di salah satu hotel di Mataram. 

Kepala SLBN 1 Mataram, Rochman Ardiansyah, mengatakan, magang ini menjadi program rutin di sekolahnya. Melalui, jurusan Tata Graha, SLBN 1 Mataram mendorong siswa agar memiliki kemampuan yang sama seperti anak lainnya. Salah satunya, menjadi housekeeping di hotel.

“Kalau magangnya sebenarnya agenda rutin, cuma untuk yang ke hotel ini baru pertama kali,” ujarnya, Selasa (3/11).

Keputusan melaksanakan magang di hotel bukan tanpa alasan. Menurut Rochman, salah satu bidang pekerjaan yang prospek kedepannya bagus dan besar di Lombok adalah perhotelan. Selain itu, peluang penerimaan tenaga kerja disabilitas juga kemungkinan banyak yang akan bisa diserap di bidang perhotelan.

“Disisi lain juga kami berharap dengan magang di hotel ini membuat lingkungan perhotelan di Lombok ini bisa lebih aware dan memberi kesempatan dengan tenaga disabilitas juga yang bisa diberdayakan sesuai dengan kompetensinya,” harapnya.

Beberapa alumni SLBN 1 Mataram bahkan telah bekerja selama tiga tahun di salah satu hotel di Lombok Tengah. Kendati demikian, Rochman masih menemukan sejumlah rintangan yang mesti dihadapi siswa-siswinya. Terutama dalam menjangkau peluang kerja saat ini.

Ia mencontohkan, perusahaan biasanya masih bingung mencari rekan disabilitas yang kompeten. Sehingga selama ini belum membuka lowongan untuk disabilitas. Kemudian, pemahaman perusahaan terkait dengan disabilitas biasanya masih abu-abu. Alhasil, tidak sedikit perusahaan yang khawatir duluan sebelum mencoba menerima tenaga disabilitas.

Selanjutnya, akses informasi lowongan pekerjaan untuk tenaga disabilitas yang menurutnya masih terbatas. Di samping sosialisasi kepada perusahaan terkait aksesibilitas, fasilitas pendukung dan cara berkomunikasi yang baik untuk penyandang disabilitas yang masih kurang.

“Jadi karena itu saya rasa kedepannya kita perlu sama sama kolaborasi antara kesiapan dunia kerja dan sekolah luar biasa untuk menyiapkan penyandang disabilitas yang kompeten dan siap bekerja,” pungkasnya. (sib)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO