spot_img
Sabtu, Februari 21, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEDorong Adanya Bimbingan Psikolog

Dorong Adanya Bimbingan Psikolog

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB mendorong adanya bimbingan psikologi terhadap guru BK. Dorongan ini muncul karena banyaknya kasus remaja NTB yang alami gangguan kesehatan mental.

Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H.Aidy Furqan mengatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan pihak RSJ untuk membantu guru-guru diberikan tes trauma. Hal ini karena guru sebagai tenaga pendidik akan membagikan emosinya kepada para siswa. Sehingga sebelum memberikan bimbingan mental kepada siswa, diberikan bimbingan kesehatan terlebih dahulu kepada guru.

‘’Saya bekerja sama dengan RSJ untuk membantu guru-guru saya di trauma healing karena mentransfer emosinya kepada anak-anak berdasarkan kondisi dirinya bukan karena ilmunya,” ujarnya kepada Suara NTB kemarin.

Aidy mengungkapkan, pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa instansi terkait untuk membantu memberikan bimbingan kepada guru BK terkait dengan penanganan kesehatan mental kepada para siswa.

“Kita sudah mulai dengan instansi seperti BNN. Itu sudah kita libatkan guru BK se NTB untuk diberikan penguatan dan strategi mengatasi anak yang under confident, tidak percaya diri, dan sebagainya,” katanya.

Ia menjelaskan, pihaknya telah mengumpulkan data terkait  anak-anak SMA yang bermasalah. Ditemukan bahwa rata-rata anak yang sering bermasalah di sekolah merupakan anak-anak yang memiliki masalah keluarga, entah itu masalah perekonomian, keluarga tidak utuh, dan sebagainya.

“Dengan background keluarga tidak bagus menyebabkan dia jadi tidak percaya diri,” jelasnya. Menurutnya, untuk mengatasi permasalahan mental terhadap remaja di NTB, perlu adanya koordinasi yang masif dengan instansi seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan, Psikolog, dan Praktisi.

Adapun Aidy menyatakan, saat ini peran guru BK belum mampu memberikan bimbingan mental kepada siswa. Padahal, yang paling diperlukan oleh remaja saat ini adalah adanya bimbingan mental. Pun saat ini, kesan BK di kalangan para siswa masih negatif, sehingga banyak siswa yang enggan untuk berkonsultasi kepada guru Bimbingan Konseling.

“Kalau ada anak yang dipanggil ke BK negatif kesannya. Karena memang selama ini fungsi BK itu tidak dia preventif, tidak juga psikososial. Lebih kepada penertiban. Padahal diperlukan pendampingan psikologis,” jelasnya.

Selain itu, yang menjadi tantangan BK adalah rasio antara guru BK dan jumlah siswa sangat tidak sebanding. Yang mana satu guru BK menangani ratusan siswa.

“Sesuai rasio, satu guru BK menangani 150 anak. Jadi itu menurut saya sangat berat. Harusnya sama penanganannya dengan jumlah wali kelas yang mana satu guru menangani maksimal 36 orang,” pungkasnya. (era)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO