Tanjung (Suara NTB) – Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Santong di Kabupaten Lombok Utara adalah satu dari sekian pembangkit listrik ramah lingkungan yang dioperasikan oleh PLN Unit Induk Wilayah NTB untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan di Nusa Tenggara Barat.
PLTMH Santong yang memiliki kapasitas 1.000 kilowatt (KW) merupakan salah satu pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki dan dioperasikan oleh PLN. Pembangkit ini memanfaatkan aliran air pegunungan yang stabil sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Pembangkit ini bagian dari upaya strategis PLN dalam mendorong transformasi menuju energi hijau. Ini upaya PLN menghadirkan listrik yang tidak hanya andal, tetapi juga rendah emisi,” ujar General Manager PLN UIW NTB, Sri Heny Purwanti saat melakukan kunjungan ke PLTMH Santong bersama media di NTB, Kamis, 19 Juni 2025.
Saat ini, PLN NTB memiliki total kapasitas pembangkit EBT sebesar 39,20 MW. Dari jumlah tersebut, 16,47 MW berasal dari pembangkit tenaga mikrohidro, salah satunya PLTMH Santong, yang tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa. PLTMH Santong menjadi salah satu pembangkit yang menunjang pencapaian bauran energi bersih di NTB yang per Mei 2025 telah mencapai 5,11%.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN NTB menargetkan penambahan pembangkit EBT sebesar 457 MW atau setara 36,94% dari total tambahan kapasitas listrik di NTB hingga 2034.
Di Pulau Lombok sendiri, pengembangan EBT direncanakan sebesar 190 MW, dengan fokus pada pemanfaatan energi surya plus baterai dan air.
“PLTMH Santong ini bukan hanya pembangkit, tetapi juga simbol dari pemanfaatan potensi lokal untuk keberlanjutan energi. Dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya air di wilayah pegunungan, kami tidak hanya menghadirkan listrik yang bersih, tapi juga memberdayakan wilayah sekitar,” lanjut Sri Heny.
PLN terus mendorong pemanfaatan EBT melalui berbagai inisiatif, termasuk penyediaan produk energi hijau seperti Renewable Energy Certificate (REC). Di NTB, program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi pelanggan dalam mendukung energi bersih dan pencapaian target net zero emission lebih cepat.
Heny menambahkan, sejumlah pembangkit listrik berbasis EBT telah beroperasi di berbagai wilayah NTB, baik dalam skala mikro, menengah, hingga sistem hibrida.
Pembangkit listrik ramah lingkungan ini terdiri atas Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan pembangkit hybrid. Keberadaan pembangkit-pembangkit ini tidak hanya menyuplai kebutuhan listrik masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan, namun juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan energi daerah dan mendukung target nasional Net Zero Emission (NZE) 2060.
Di sektor mikro hidro, NTB memiliki sejumlah PLTMH yang tersebar di berbagai lokasi, di antaranya: PLTMH Pengga. PLTMH Narmada. PLTM Santong.
Selain itu, terdapat pula PLTMH Independent Power Producer (IPP) yang dikelola swasta seperti PLTMH IPP Kukusan (PT Persada Karya Tama). PLTMH IPP Sesaoat (PT Tirta Daya Rinjani). PLTMH IPP Kokoq Putih (PT Nusantara Indo Energi). PLTMH IPP Cakra (PT Tirta Daya Rinjani).
Untuk pemanfaatan tenaga surya, sejumlah PLTS juga telah dibangun dan beroperasi terutama di wilayah kepulauan dan kawasan wisata seperti PLTS Gili Trawangan. PLTS Gili Air. PLTS Gili Meno. PLTS ini berperan besar dalam mendukung kebutuhan listrik destinasi wisata ramah lingkungan, serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Beberapa pembangkit PLTS lainnya dikelola oleh pihak swasta sebagai bagian dari proyek IPP (Independent Power Producer), antara lain PLTS IPP Pringgabaya (PT Infrastruktur Terbarukan Adhiguna). PLTS IPP Selong (PT Infrastruktur Terbarukan Buana). PLTS IPP Sengkol (PT Infrastruktur Terbarukan Cemerlang).dan PLTS IPP Sambelia (PT Delapan Menit Energi).
Adapun inovasi terbaru adalah pembangkit tenaga surya hybrid, yaitu PLTS Hybrid Medang. Pembangkit hybrid ini mengombinasikan tenaga surya dengan sumber lain seperti baterai atau diesel untuk memastikan pasokan listrik yang stabil, terutama di daerah terpencil. “PLN UIW NTB juga tengah merancang untuk memanfaatkan potensi pembangkit listrik memanfaatkan arus bawah laut,” tambah Heny.
Langkah PLN dalam mendukung target Provinsi NTB menjadi wilayah berbasis energi bersih dan rendah karbon, khususnya mencapai target Net Zero Emission Provinsi NTB pada tahun 2050, 10 tahun lebih cepat dari NZE nasional.
PLN menyampaikan bahwa saat ini bauran EBT di sistem kelistrikan NTB telah mencapai 5,35% dari total kapasitas terpasang. Angka ini ditargetkan meningkat menjadi 25,20% pada tahun 2034, sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. “PLN siap berkolaborasi dengan Pemprov NTB dan pihak pihak terkait dalam mencapai target energi hijau. Melalui pengembangan pembangkit EBT dan penguatan sistem, kami optimistis NTB dapat menjadi contoh provinsi berkelanjutan di Indonesia,” tandas Heny. (bul)


