Mataram (Suara NTB) – Ketahanan pangan bukan semata tanggung jawab pemerintah. Namun, peran aktif masyarakat, khususnya generasi muda sangat penting, dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis lokal.
Hal ini ditegaskan oleh Apriliawan Sukma, Pemuda Pelopor Nasional 2020 bidang Pangan asal Lombok Tengah. Dalam keterangan tertulis yang diterima Suara NTB, Jumat, 3 Juli 2025, Apriliawan mengajak generasi muda untuk mulai mengembangkan konsep ketahanan pangan dari lingkup terkecil—komunitas.
Salah satu langkah nyata yang ditawarkannya adalah melalui pengembangan pertanian skala hobi, pemanfaatan lahan kosong, dan menjadikan aktivitas bertani sebagai kegiatan yang menyenangkan dan bermakna. “Pangan itu bukan hanya soal makan. Ia adalah identitas, kedaulatan, dan masa depan,” tegasnya.
Aktivis yang juga aktif dalam pemberdayaan petani muda dan edukasi lingkungan ini percaya, perubahan bisa dimulai dari desa. Ia mendorong pemuda untuk kembali mencintai tanahnya, menghargai hasil alam, dan tidak malu bertani.
Menurutnya, tantangan zaman bisa dijawab dengan inovasi. Ia mendorong agar hasil pertanian lokal tidak hanya dikonsumsi apa adanya, namun diolah secara kreatif agar bernilai tambah dan menarik minat pasar, termasuk generasi muda urban yang semakin jauh dari dunia pertanian.
“Ketika anak muda melihat bertani itu keren, maka di situlah titik balik ketahanan pangan kita dimulai,” ujarnya.
Apriliawan menilai, saat ini sudah banyak pemuda yang mulai membentuk komunitas tani, kebun edukasi, hingga urban farming yang berbasis digital. Hal ini menunjukkan bahwa semangat mencintai pangan lokal tidak lagi eksklusif untuk orang desa, tetapi menjadi gerakan kolektif lintas wilayah.
Ia berharap, upaya membangun ketahanan pangan tidak hanya berhenti di program pemerintah atau institusi tertentu. Perlu ada sinergi antara masyarakat, komunitas, lembaga pendidikan, pelaku usaha, dan media untuk mengangkat potensi lokal dan membangun kesadaran akan pentingnya pangan yang berdaulat. “Prestasi tidak selalu lahir dari kota besar. Dari desa pun, perubahan bisa dimulai,” tutup Apriliawan dengan optimis. (ham)



