spot_img
Jumat, Februari 27, 2026
spot_img
BerandaNTBPemerintah Perlu Memahami DAS Secara Geologi untuk Cegah Bencana

Pemerintah Perlu Memahami DAS Secara Geologi untuk Cegah Bencana

Mataram (Suara NTB) – Banjir yang melanda Kota Mataram akibat luapan Sungai Ancar beberapa waktu lalu menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat. Secara menyeluruh, geologi kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rusak tak hanya mempercepat banjir, tetapi juga mengganggu pengisian air tanah, memperparah kekeringan saat kemarau.

Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Dr. Ir. H. Aji Syailendra Ubaidillah, S.T., M.Sc., yang juga ahli geologi, pada Kamis, 17 Juli 2025. Saat ini, pemerintah daerah merespons dengan menggusur bangunan-bangunan yang terbukti berdiri di kawasan DAS. Meski menimbulkan protes dari warga sekitar DAS, menurut Aji, langkah ini perlu dipahami dari sisi geologi dan fungsi alami DAS sebagai sistem pengatur air dalam lanskap bumi.

“Maka memahami DAS secara geologi penting sebagai pijakan dalam merancang kota yang tahan bencana,” saran Aji Syailendra.

Secara geologis, DAS merupakan satu kesatuan wilayah yang dibatasi oleh punggungan bukit dan pegunungan, di mana seluruh air hujan yang jatuh akan mengalir menuju satu titik utama, yaitu sungai atau muara. DAS bekerja seperti sistem drainase alam yang kompleks: meresapkan, menyimpan, dan mengalirkan air secara perlahan melalui tanah, batuan, dan sungai.

Namun dalam kasus Sungai Ancar, penyempitan DAS terjadi akibat masifnya pembangunan permukiman dan komersial di zona sempadan sungai. “Geologi wilayah Mataram yang didominasi oleh endapan alluvial muda yang poros dan umumnya baik menyimpan air, kehilangan kemampuannya karena banyak permukaan kini tertutup beton,” urainya.

Secara hidrogeologi, daya resap berkurang drastis, menyebabkan air hujan tak lagi masuk ke dalam akuifer dangkal melainkan langsung mengalir sebagai limpasan permukaan. Hal ini memicu peningkatan debit Sungai Ancar dalam waktu singkat, melampaui kapasitas alur sungai yang sudah mengalami penyempitan akibat sedimentasi dan bangunan liar. Akibatnya, banjir terjadi secara cepat, tinggi, dan merusak.

“Dari segi sedimentologi, banjir membawa serta material lepas seperti pasir dan lumpur dari lereng dan lahan terbuka, yang kemudian mengendap di dasar sungai. Pendangkalan alur pun semakin memperburuk daya tampung Sungai Ancar,” ujarnya. (ron)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO