spot_img
Sabtu, Januari 31, 2026
spot_img
BerandaPENDIDIKANIntegrasi Bioinformatika dan AI Jadi Kunci Transformasi Kesehatan

Integrasi Bioinformatika dan AI Jadi Kunci Transformasi Kesehatan

Mataram (Suara NTB) –  Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) kembali menghadirkan gebrakan intelektual lewat acara akbar Gema Medika 2025 yang secara resmi dibuka di Gedung Teater Ahmad Firdaus Sukmono, pada Kamis (31/7/25).

Mengangkat tema besar “Transformasi Kesehatan Masa Depan: Integrasi Bioinformatika dan Teknologi Riset Klinis,” acara ini menjadi titik temu antara kemajuan teknologi dan dunia medis yang kian dinamis.

Pakar bioinformatika dari Universitas Brawijaya, Prof. Agustina Tri Endharti, S.Si., Ph.D., mengisi sesi Keynote Speech, memaparkan  tentang peran revolusioner bioinformatika dalam dunia diagnostik medis modern. “Bioinformatika bukan sekadar alat bantu, tapi jantung dari diagnosa presisi masa depan,” tegas Prof. Agustina di hadapan ratusan mahasiswa dan akademisi FK Unizar.

Prof. Agustina juga menyoroti bagaimana pendekatan tradisional dalam mendiagnosis penyakit–yang sebelumnya hanya berbasis gejala dan kultur laboratorium–sudah tidak lagi cukup. Kini, pendekatan omics seperti genomics, transcriptomics, metabolomics, hingga proteomics menawarkan presisi tinggi dengan cara memetakan mutasi genetik, ekspresi RNA, hingga biomarker protein spesifik.

“Dengan teknologi ini, kita bisa mendeteksi penyakit bahkan sebelum gejala muncul. Ini sangat relevan untuk penyakit seperti kanker dan gangguan metabolik,” jelasnya.

Tak hanya itu, Prof. Agustina juga membedah bagaimana teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) kini menjadi senjata utama dalam menganalisis data biologis berukuran besar. Model seperti Random Forest, Support Vector Machine (SVM), hingga Graph Machine Learning terbukti mampu memprediksi respons kemoterapi, memetakan jalur metabolik, dan bahkan merekomendasikan terapi personalisasi.

Salah satu studi yang diangkat menunjukkan bagaimana algoritma AI berhasil mengembangkan model prediktif untuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak balita, sebuah langkah yang membuka cakrawala baru dalam pencegahan penyakit menular secara dini.

Prof. Agustina menekankan bahwa integrasi teknologi ini akan mempercepat proses diagnostik dari hitungan minggu menjadi hanya beberapa jam. Selain itu, keunggulan lain dari bioinformatika adalah kemampuannya dalam menganalisis ribuan gen atau sampel sekaligus, serta menyesuaikan diagnosis berdasarkan profil genetik tiap individu.

“Kita tidak bisa lagi mengandalkan solusi satu untuk semua. Era kedokteran personalisasi sudah dimulai,” pungkasnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unizar, Prof. dr. Rosdiana Natzir, Ph.D., Sp.Biok., dalam sambutan terpisah, menyampaikan bahwa GEMA MEDIKA 2025 tidak hanya menjadi ajang pembelajaran, tetapi juga komitmen fakultas dalam menyongsong transformasi dunia medis berbasis riset dan teknologi. (ron)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO