Mataram (suarantb.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat kenaikan angka kemiskinan di wilayah perkotaan, termasuk Kota Mataram. Kemiskinan di perkotaan NTB naik, membuat situasi sosial semakin rumit. Sementara itu, angka pengangguran masih membayangi kota ini, meski kemiskinan secara keseluruhan di NTB justru menurun.
Pada Maret 2025, jumlah penduduk miskin di NTB tercatat sebanyak 654,57 ribu jiwa. Jumlah ini berkurang sebanyak 4,03 ribu jiwa jika mengacu pada data September 2024, dan turun 54,44 ribu jiwa jika mengacu pada Maret 2024.
Namun, data menunjukkan peningkatan kemiskinan di wilayah perkotaan. Kemiskinan di perkotaan NTB naik secara signifikan. Sebaliknya, perdesaan justru mengalami penurunan yang signifikan.
Kemiskinan di Perkotaan NTB Naik, Perdesaan Turun
Persentase penduduk miskin di perkotaan naik dari 11,64 persen pada September 2024 menjadi 12,02 persen pada Maret 2025. Jumlahnya bertambah 14,94 ribu orang, dari 338,74 ribu menjadi 353,68 ribu jiwa.
Sementara itu, di perdesaan, persentase kemiskinan turun dari 12,21 persen menjadi 11,51 persen. Jumlah penduduk miskin berkurang 18,97 ribu orang, dari 319,86 ribu menjadi 300,89 ribu jiwa.
Penyebab Kenaikan Kemiskinan Perkotaan
Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Lalu Samsul Adnan, menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan angka kemiskinan Perkotaan NTB naik, khususnya di Kota Mataram.
“Secara naluriah, orang pasti akan mencari kerja di kota. Itu konsep awalnya, karena kota ini ibaratnya gula yang banyak semut kerumuni,” ujarnya pada Kamis, 7 Agustus 2025.
Ia menyebutkan bahwa kemiskinan di perkotaan memiliki banyak dimensi, baik struktural maupun kultural. Namun, ia menegaskan bahwa dua penyebab utama tetap lapangan kerja dan pendidikan.
“Semakin bagus tingkat pendidikan orang, maka semakin besar peluang mendapatkan pekerjaan, atau bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri,” tuturnya.
Sementara itu, Samsul menilai wilayah perdesaan lebih kondusif untuk bertahan hidup. Lahan pertanian yang luas dan jenis pekerjaan informal yang beragam menjadi alasan utama.
“Kalau di pedesaan, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Pertanian sangat luas,” ucapnya.
Samsul membenarkan bahwa migrasi penduduk desa ke kota menjadi penyebab meningkatnya pengangguran di perkotaan.
“Iya, bolehlah (bahwa benar akibat pergerakan penduduk desa ke kota menyebabkan semakin banyak pengangguran di Kota Mataram),” sebutnya.
BPS mencatat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2024 mencapai 4,85 persen. Angka ini mengalami kenaikan tipis sebesar 0,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 4,78 persen.
Penerima Bansos di Kota Mataram Menurun
Di sisi lain, jumlah penerima bantuan sosial (bansos) di Kota Mataram terus menurun. Penurunan ini terjadi setelah Kementerian Sosial memangkas jumlah penerima pada dua triwulan pertama 2025.
“Ada dua SK yang Kemensos keluarkan pada triwulan pertama dan triwulan kedua, SK No. 80 dan SK No. 141 kalau tidak salah. Itu mengeluarkan 8000 lebih penerima bansos di Kota Mataram,” bebernya.
Penurunan ini bisa jadi hasil dari validasi data yang lebih ketat. Namun, bisa juga menunjukkan bahwa sebagian warga telah keluar dari kategori miskin.
Meski begitu, kenaikan angka kemiskinan di perkotaan tetap menjadi alarm serius. Kemiskinan di perkotaan NTB naik karena laju urbanisasi tidak diiringi dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai, khususnya bagi lulusan muda dan tenaga kerja berpendidikan menengah. (*)


