Tanjung (Suara NTB) – Di tengah tingginya minat mencari kerja ke luar negeri, calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Lombok Utara (KLU) rupanya masih terkendala bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Jepang dan Jerman. Oleh karenanya, Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP-Naker) KLU, mengusulkan kepada Bupati KLU Dr. H. Najmul Akhyar agar bahasa asing masuk ke dalam kurikulum mata pelajaran jenjang sekolah menengah.
Diakui Kepala Dinas PMPTSP-Naker KLU, Evi Winarni, SP., M.Si., pihaknya sudah melaporkan kepada kepala daerah terkait adanya kendala bahasa dalam proses rekrutmen CPMI. Negara-negara tujuan seperti Jepang dan Jerman, mulai diminati oleh masyarakat. Namun tidak sedikit dari mereka yang gagal berangkat karena kemampuan dalam berbahasa asing masih kurang.
“Kami sudah koordinasi dengan Pak Bupati untuk memasukkan pelajaran bahasa asing ke dalam kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bahasa seperti Jepang, Jerman, dan Korea diharapkan bisa mulai diajarkan sejak dini,” ungkap Evi.
Ia menjelaskan, Pemda Lombok Utara sendiri memiliki Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten. Namun kesiapannya dalam mengakomodir pelajaran bahasa asing masih memerlukan dukungan baik SDM pengajar maupun prasarana pendukung lainnya.
“Kalau Balai Latihan Kerja (BLK) belum siap, maka SMK menjadi solusi. Kita sudah sampaikan agar kurikulum mereka bisa memasukkan bahasa asing negara-negara yang memang membuka ruang kerja bagi CPMI,” sambungnya.
Evi menyatakan, minat CPMI ke luar negeri cukup tinggi. Namun dominan masih menyasar negara tujuan Malaysia karena tidak ada hambatan bahasa. Sementara peluang ke negara-negara lain seperti Jerman, Jepang dan Korea Selatan yang menawarkan berbagai posisi strategis dan penghasilan lebih tinggi belum banyak diminati karena kendala bahasa tersebut.
Menurut dia, pemerintah membuka peluang kerjasama penempatan CPMI dengan banyak negara melalui skema Government to Government (G to G) maupun Government to Private (G to P).
Selain Korea dan Jepang, pemerintah kini membuka peluang kerja di negara Jerman. Tentunya, untuk dapat bekerja di sana, CPMI harus menguasai bahasa Jerman dengan baik. “Pemerintah Jerman membuka peluang kerja untuk tenaga kesehatan melalui G to G. Tapi kualifikasi utamanya adalah harus menguasai bahasa Jerman dan Inggris. Bahasa Inggrisnya pun tidak lagi menggunakan TOEFL, tapi IELTS. Ini tantangan besar kita,” paparnya.
Mantan Kepala Bapenda ini berharap, Pemda dapat membuka kran kurikulum bahasa asing pada sekolah menengah. Cara ini menurut dia, akan membantu proses pemahaman bahasa dan membuka ruang CPMI warga Lombok Utara di luar negeri. “Tahun ini baru dua orang yang bisa magang ke Jepang, tahun lalu juga sangat minim. Lagi-lagi, kendalanya adalah bahasa,” demikian Evi. (ari)

