Selasa, Maret 10, 2026

BerandaNTBLOMBOK TIMURBudidaya Porang Bisa Jadi Primadona Agribisnis Baru di Lotim

Budidaya Porang Bisa Jadi Primadona Agribisnis Baru di Lotim

Selong (Suara NTB) – Budidaya tanaman porang disebut bisa jadi primadona agribisnis baru di Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Setelah hadirnya sentra industri Porang di Pringgabaya, tanaman yang oleh masyarakat lokal disebut juga Lombos ini sangat potensial untuk dikembangkan

Menjawab Suara NTB via ponselnya, Senin, 11 Agustus 2025, Staf Khusus (Stafsus) Bupati Lotim Bidang Pertanian, H. Badarudin, memaparkan analisis komprehensif terkait peluang dan tantangan agribisnis porang (Amorphophallus muelleri) di Lotim.

Lombos ini semula adalah tanaman liar di kawasan hutan. Tanaman ini sempat dibudidayakan petani, namun mengalami trauma kolektif akibat anjloknya harga pada 2020–2021. Kini, porang bangkit sebagai komoditas strategis menyusul berdirinya Pabrik Porang PT Sanindo Pangan Rinjani di Pringgabaya, yang rencananya diresmikan pada 14 Agustus 2025 mendatang.

Melihat trennya, Porang memiliki potensi ekonomi yang besar. Nilai Investasi kecil tapi hasil yang menggiurkan. Perhektar, dibutuhkan 20.000  bibit. Produksi 6-8 bulan. Produktivitas  40.000 kg/ha. Harganya sekarang rata-rata Rp 8.500/kg. Pendapatan kotor  Rp 340 juta. Investasi Awal         Rp 200 juta utamanya bibit.

Tahun berikutnya, petani tidak perlu beli bibit baru (gunakan bibit katak dari tanaman sebelumnya). Dengan potensi lahan pengembangan mencapai 10.000 hektar dan dukungan pabrik berkapasitas 50–80 ton/hari, porang mampu menjadi penggerak ekonomi baru. Bupati Lotim, H. Haerul Warisin menargetkan 80 persen bahan baku pabrik berasal dari petani lokal .

Menurut H. Badarudin, tantangan kritis Porang ini adalah mengatasi trauma dan modal. Trauma Harga Anjlok (2020–2021). Petani masih trauma akibat ketiadaan pembeli dan harga tak stabil. Kehadiran pabrik diharapkan menjadi solusi dengan jaminan pasar tetap .

Selanjutnya, modal awal Rp 200 juta/ha menjadi hambatan utama, terutama bagi petani kecil. Pemerintah diharapkan perlu menyiapkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kemitraan investor untuk memecah kebuntuan ini.

Ditambahkan, pabrik Porang yang tersedia saat ini membutuhkan 14.400 ton bahan baku selama 6 bulan operasi penuh (80 ton/hari) selama kurun waktu 2025. Untuk memenuhinya, diperlukan penanaman seluas 360 Ha pada 2025 (asumsi produktivitas 40 ton/Ha). “Jika tidak tercapai, pasokan harus didatangkan dari kabupaten lain di Sumbawa atau NTB,” kata mantan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Lotim ini.

Dikatakan, agar bisa berkelanjutan perlu dibuat skenario oleh pemerintah: Tiga Strategi Penguatan, yakni menyalurkan bantuan pemerintah (APBN/APBD).  Mengintensifkan penyuluhan dan pembinaan kelompok tani melalui Dinas Pertanian. Perlu juga membangun kolaborasi dengan pemerintah pusat/swasta atasi kelangkaan bibit .

Pabrik porang adalah aset daerah. Manfaatnya harus dirasakan masyarakat, baik langsung maupun tak langsung. Petani tak perlu lagi jual porang ke luar daerah.  Kehadiran pabrik porang ini jelas membuka lapangan kerja baru dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani.

Selain itu, tambahnya  porang berpotensi mengubah wajah ekonomi Lotim. Tantangan masa lalu dijadikan pelajaran untuk membangun sistem agribisnis yang berkelanjutan. “Porang bukan sekadar tren, tapi harapan baru petani Lombok Timur,” ujarnya. (rus)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO