Tanjung (Suara NTB) – Sejak diluncurkan 4 pekan lalu, program baru Car Free Day (CFD) yang digelar tiap hari Minggu di Kabupaten Lombok Utara (KLU), mendapat reaksi positif dan negatif. Reaksi positif lantaran CFD menjadi wahana “healing” baru bagi ribuan masyarakat yang membanjiri ruas jalan protokol, sekaligus membuka akses pasar bagi pelaku UMKM. Sebaliknya, CFD juga mengundang reaksi negatif lantaran munculnya kemacetan akibat tidak siapnya jalur alternatif untuk pengguna jalan raya.
Menyikapi hal tersebut, Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH., MH., mengungkapkan, program CFD tetap dievaluasi. Diakui atau tidak, animo tinggi masyarakat dan terhambatnya laju pengguna jalan raya merupakan dua hal yang bertolak belakang.
Ia mengakui CFD menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk bersilaturahmi, rekreasi, jalan sehat, juga menghadirkan perputaran ekonomi bagi para pelaku UMKM khususnya kuliner.
“Car Free Day ini sambil kita evaluasi, secara ekonomi manfaatnya sangat bagus. Masyarakat kita juga sangat senang karena mereka punya ruang untuk promosi dan berjualan,” ungkap Najmul.
Bupati mengaku, dirinya mendengar langsung pengakuan salah satu pedagang yang berjualan pada hari CFD. Di mana pedagang tersebut mengalami lonjakan omset dari Rp 2 juta di hari reguler, menjadi Rp 7 juta hanya dalam 3 jam pelaksanaan CFD.
Bagi Bupati, perputaran omset itu tentu tidak hanya berlaku pada satu atau dua pedagang saja, tetapi di lebih banyak pedagang. Sebab, ribuan peserta CFD yang hadir dipastikan melakukan transaksi untuk konsumsi di tempat.
Tentunya, tegas dia, evaluasi CFD tidak hanya mencakup aspek penggunaan jalan raya untuk lalu lintas semata, tetapi evaluasi menyangkut tata letak lapak UMKM agar tidak menimbulkan kesan kumuh. Lebih penting lagi, kebersihan di jalur CFD tetap bersih sebelum dan setelah pelaksanaan. “Masyarakat butuh ruang untuk peningkatan ekonomi, ini yang luar biasa, dan kita akan terus ikhtiarkan,” imbuhnya.
Kendati demikian, ia juga tak menampik adanya dampak ikutan bagi pengguna jalan raya selama ruas ditutup untuk CFD. Lombok Utara masih kekurangan akses jalan alternatif seiring belum selesai pembangunan jalan lingkar Utara. Oleh karenanya, sembari program ini berjalan, ia meminta jajarannya untuk terus mengevaluasi dan melakukan perbaikan agar seluruh masyarakat yang berkepentingan dengan aktivitasnya tidak mengalami hambatan.
Sebelumnya, pada CFD pekan ke-4 Minggu, 10 Agustus 2025 , banyak pengguna jalan raya mengeluhkan jalan alternatif yang melintasi ruas Sasak Narmada – Montong – Kroya – Ladang-ladang – Karang Sema. Khusus di jalur Dusun Montong, pengguna sepeda motor, harus melintasi jalan yang lebarnya 4 meter. Tidak sedikit pemotor yang melintas melalui jalur alternatif Karang Montong namun dengan medan jalan rabat dan berada di atas sungai.
“Luasnya tidak sampai satu meter. Masak kita disuruh lewat sini, jalannya terjal, di bawah ada kali. Astaga,” tulis Abdi Haris dalam curhatnya.
Abdi berharap Pemda mempertimbangkan keselamatan warga sebelum menetapkan jalur alternatif. (ari)


