Bima (Suara NTB) – Kondisi kekeringan di Kabupaten Bima tahun 2025 lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2024 hampir semua wilayah dilanda kekeringan, tahun ini jumlah desa terdampak jauh berkurang.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, Drs. Isyrah, mengungkapkan perbedaan kondisi itu dipengaruhi curah hujan yang cukup baik di awal tahun.
“Kalau tahun kemarin 2024 hampir rata di 15 kecamatan dari 19 kecamatan (mengalami kekeringan ekstrem). Sejauh ini, pada tahun 2025 ini masih aman, karena curah hujannya cukup bagus. Biasanya kekeringan mulai dari Mei sampai dengan Juli, apalagi di bulan-bulan sekarang (Agustus) tahun lalu kami repot sekali droping air bersih,” jelasnya kepada Suara NTB, Rabu, 20 Agustus 2025.
Isyrah menyebut, pada tahun-tahun sebelumnya, Kecamatan Palibelo menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak kekeringan. Hampir semua desa di kecamatan tersebut selalu meminta suplai air bersih. Namun tahun ini kondisinya jauh berbeda.
“Tapi tahun ini, di Kecamatan Palibelo alhamdulillah belum ada permintaan air bersih. Hanya Desa Belo kemarin yang minta, tapi tahun ini tidak separah tahun lalu,” katanya.
Meski kondisi lebih baik, BPBD tetap siaga menghadapi potensi kekeringan yang bisa muncul sewaktu-waktu. Armada tangki air disiapkan untuk mendukung distribusi jika permintaan meningkat.
“Armada untuk penyaluran air bersih kalau di BPBD Kabupaten Bima ada dua mobil tangki. Kalau dari Bank NTB satu tangki. Sebenarnya ada delapan tapi yang aktif itu di Polres Kabupaten Bima, Bank NTB, dan BPBD. Itu yang biasa kita gunakan selama ini,” terang Isyrah.
Menurutnya, koordinasi lintas lembaga terus dilakukan agar pelayanan air bersih ke desa-desa terdampak berjalan lancar. BPBD juga memantau secara rutin wilayah rawan kekeringan, terutama desa-desa di bagian selatan dan tengah Kabupaten Bima.
“Kalau ada laporan langsung dari desa atau kecamatan, kita segera turun. Koordinasi dengan camat dan kepala desa,” tambahnya.
Isyrah menilai, meski tahun ini kondisi lebih baik, masyarakat tetap perlu waspada menghadapi musim kemarau panjang. Pola konsumsi air harus dijaga agar pasokan tidak cepat habis. Selain itu, pemerintah desa diimbau memanfaatkan sumber air alternatif, seperti sumur bor atau penampungan air hujan, untuk mengantisipasi kebutuhan di musim kemarau.
“Tahun ini memang relatif aman, tapi kita tidak boleh lengah. Cuaca bisa berubah. Karena itu, semua pihak harus ikut menjaga ketersediaan air,” tutupnya. (hir)


