spot_img
Rabu, Februari 18, 2026
spot_img
BerandaADVERTORIALWaspada Kanker Kulit di NTB: Kenali, Cegah, dan Tangani Sejak Dini

Waspada Kanker Kulit di NTB: Kenali, Cegah, dan Tangani Sejak Dini

Kanker kulit adalah salah satu jenis kanker yang sering tidak mendapat perhatian serius. Padahal, penyakit ini terjadi karena adanya kerusakan DNA pada sel kulit yang tidak mampu diperbaiki tubuh, sehingga memicu pertumbuhan sel abnormal. Umumnya, kanker kulit muncul di lapisan terluar kulit (epidermis), sehingga sebenarnya dapat dikenali lebih dini jika kita cukup cermat memperhatikan perubahan pada kulit.

Secara garis besar, kanker kulit terbagi menjadi dua jenis utama. Pertama, non-melanoma skin cancer (NMSC), yang meliputi Basal Cell Carcinoma (BCC) dan Squamous Cell Carcinoma (SCC). BCC merupakan jenis yang paling banyak ditemukan, sekitar 65–80% kasus. Meskipun jarang menyebar, BCC bisa merusak jaringan di sekitarnya jika tidak ditangani. SCC memang lebih jarang, tetapi memiliki risiko lebih besar untuk menyebar ke organ lain.

Jenis kedua adalah melanoma, kanker kulit yang lebih agresif dan berbahaya. Meski jarang ditemukan pada populasi Asia, hanya 0,2–0,5 kasus per 100.000 penduduk per tahun, melanoma tetap menjadi ancaman serius karena tingkat kematian yang lebih tinggi.

Di Indonesia sendiri, data menunjukkan bahwa kanker kulit didominasi oleh BCC (65,5%), disusul SCC (23%), dan melanoma maligna (7,9%).

Gambaran di NTB dan Konteks Lokal

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), data Riskesdas 2018 mencatat prevalensi kanker sekitar 0,85%. Angka ini memang tidak spesifik untuk kanker kulit, namun cukup memberi gambaran bahwapenyakit kanker, termasuk jenis kulit, masih sering luput dari perhatian masyarakat kita.

Tren serupa juga terlihat di berbagai daerah lain. Misalnya di RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang, dalam periode 2017–2019, kasus kanker kulit meningkat hingga 1,5 kali lipat. Dari total kasus yang tercatat, 50% merupakan BCC, 40,1% SCC, dan 9,9% melanoma. Kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia 55-64 tahun, dengan wajah sebagai lokasi yang paling sering terkena (67,3%).

Jika melihat kondisi NTB yang memiliki paparan sinar matahari tinggi sepanjang tahun, ditambah banyaknya warga yang beraktivitas di luar ruangan, maka risiko kanker kulit tentu lebih besar, khususnya untuk jenis non-melanoma.

Saatnya Masyarakat NTB Lebih Waspada

Ada beberapa tanda yang patut diwaspadai sebagai gejala awal kanker kulit. Misalnya, luka atau bercak yang tidak kunjung sembuh, bintik baru yang terus membesar atau berubah bentuk, hingga noda yang terasa gatal, berubah warna, berdarah, atau menimbulkan nyeri.

Untuk mencegah dan mendeteksi sejak dini, ada langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan: Segera periksakan diri ke tenaga medis bila menemukan gejala mencurigakan, gunakan tabir surya dengan SPF minimal 30, terutama saat beraktivitas di luar ruangan, kenakan pakaian pelindung seperti topi, kemeja lengan panjang, dan kacamata hitam, hindari paparan sinar matahari langsung antara pukul 10.00–15.00 Wita, lakukan pemeriksaan kulit rutin, terutama bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun atau memiliki riwayat paparan sinar matahari tinggi.

Penutup

Kanker kulit, khususnya jenis non-melanoma, adalah salah satu kanker paling umum yang sering terabaikan. Di NTB, faktor lingkungan dan kebiasaan hidup masyarakat menjadikan risiko penyakit ini semakin tinggi.

Dengan mengenali gejala, melakukan pencegahan, serta tidak menunda pemeriksaan dini, kita bisa menekan angka kasus kanker kulit sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Jangan tunggu sampai terlambat, karena deteksi dini adalah kunci penyelamatan. (*)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO