spot_img
Kamis, Februari 26, 2026
spot_img
BerandaPENDIDIKANRevitalisasi Sekolah Sebagai Ikhtiar Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Revitalisasi Sekolah Sebagai Ikhtiar Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Amilan Hatta *)

Sekolah bukan sekadar bangunan fisik, tetapi merupakan lingkungan belajar (learning environment) yang memiliki pengaruh signifikan terhadap proses dan hasil pendidikan. Revitalisasi sekolah, yang berarti pembaruan, penguatan, dan pengembangan fasilitas sekolah, adalah sebuah keharusan, bukan lagi sebuah pilihan. Program ini harus dilihat sebagai investasi strategis jangka panjang untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul. Prioritas revitalisasi harus difokuskan pada ruang-ruang yang memiliki dampak multiplier effect tertinggi, yaitu ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, laboratorium, toilet, unit kesehatan sekolah (UKS), dan ruang administrasi.

Berdasarkan penelitian dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam laporan “The OECD Learning Environment Evaluation Programme” menyatakan bahwa kualitas lingkungan fisik sekolah berkorelasi positif dengan pencapaian akademik siswa. Faktor seperti ventilasi, pencahayaan, akustik, dan tata ruang memengaruhi konsentrasi, motivasi, dan kesejahteraan (well-being) baik siswa maupun guru.

Berikut penulis coba uraikan beberapa prioritas dan urgensi revitalisasi untuk setiap ruang sekolah:
1. Ruang Kelas: Jantung Pembelajaran
Ruang kelas adalah tempat dimana interaksi belajar-mengajar utama terjadi. Revitalisasi harus melampaui sekadar pengecatan ulang. Penataan ergonomis (meja dan kursi yang sesuai postur), pencahayaan alami dan buatan yang memadai, sirkulasi udara yang baik, pengurangan kebisingan (akustik), serta integrasi teknologi (proyektor, Wi-Fi stabil, dan sumber daya listrik yang memadai). Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk konsentrasi, mengurangi kelelahan, dan mendukung berbagai model pembelajaran (kelompok, individu, berbasis proyek). Studi oleh Barrett et al. (2015) dalam jurnal “Building and Environment” menemukan bahwa desain kelas yang baik dapat meningkatkan kemajuan belajar siswa hingga 16%.

2. Laboratorium: Wahana Sains dan Praktik
Laboratorium (IPA, Komputer, Bahasa) adalah tempat siswa menerapkan teori ke dalam praktik, mengasah keterampilan empiris, dan berpikir kritis. Pengadaan dan pemutakhiran peralatan yang sesuai standar, sistem keselamatan (eye washer, pemadam api, ventilasi fume hood untuk kimia), serta tata letak yang memungkinkan eksplorasi yang aman dan nyaman. Berdampak meningkatkan literasi sains dan teknologi. Tanpa laboratorium yang memadai, pembelajaran sains hanya akan bersifat hafalan, bukan pemahaman konseptual. Hal ini sejalan dengan visi Kurikulum Merdeka yang menekankan pada pembelajaran berbasis inkuiri dan proyek.

3. Perpustakaan: Gudang Ilmu dan Literasi
Perpustakaan modern bukan lagi tempat penyimpanan buku yang sunyi, melainkan pusat sumber belajar. Revitalisasi koleksi buku (relevan, mutakhir), penciptaan ruang yang nyaman dan inspiratif (area baca santai, area diskusi, ruang multimedia), serta digitalisasi sistem untuk memudahkan akses. Menumbuhkan minat baca dan budaya literasi. World Bank dalam berbagai publikasinya menegaskan bahwa literasi adalah fondasi untuk mengurangi kesenjangan pendidikan dan meningkatkan kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning).

4. Toilet: Cermin Budaya dan Kesehatan
Kondisi toilet sekolah seringkali terabaikan, padahal ini adalah indikator dasar dari budaya sekolah dan berdampak langsung pada kesehatan. Menjamin kebersihan, ketersediaan air, sirkulasi udara, keamanan, dan privasi. Toilet harus dirancang untuk ramah bagi penyandang disabilitas. Mencegah penyebaran penyakit, mendukung program kesehatan sekolah, dan mengajarkan nilai-nilai kebersihan dan kepedulian lingkungan. Toilet yang kotor dapat menyebabkan siswa menahan buang air kecil, yang berpotensi menyebabkan infeksi saluran kemih, seperti yang diungkap dalam penelitian di jurnal “Journal of Pediatric Urology”.

5. Unit Kesehatan Sekolah (UKS): Penjaga Kesejahteraan
UKS berperan sebagai garda terdepan untuk penanganan kesehatan dasar dan promosi hidup sehat di sekolah. Penyediaan ruangan yang hygienis, tempat tidur peristirahatan yang nyaman, obat-obatan P3K yang lengkap dan mutakhir, serta alat kesehatan dasar (tensimeter, termometer). Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental warga sekolah. UKS yang berfungsi dengan baik dapat menjadi tempat edukasi kesehatan, pencegahan stunting, dan deteksi dini masalah kesehatan siswa, sesuai dengan program Kementerian Kesehatan RI.

6. Ruang Guru: Ruang Pemulihan dan Kolaborasi
Guru adalah ujung tombak pendidikan. Mereka membutuhkan ruang yang tidak hanya untuk administrasi, tetapi juga untuk beristirahat, berkolaborasi, dan memulihkan energi. Penataan ruang yang ergonomis, penyediaan fasilitas istirahat (sofa, meja makan), akses internet, dan ruang diskusi yang nyaman untuk rapat atau berbagi ide.

Dampak positif dari penataan ruang guru yang baik dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan guru. Ruang guru yang nyaman dapat mengurangi stres dan meningkatkan semangat mengajar, yang pada akhirnya berdampak positif pada kualitas interaksi dengan siswa.

7. Ruang Administrasi: Pusat Efisiensi Layanan
Ruang ini adalah otak dari operasional sekolah. Efisiensi layanan administrasi memengaruhi kelancaran seluruh aktivitas sekolah. Penataan sistem arsip yang rapi (digital dan fisik), penciptaan ruang penerimaan tamu yang profesional, serta penyediaan perangkat kerja yang memadai (komputer, printer).

Meningkatkan efisiensi waktu dan sumber daya, memberikan pelayanan yang prima kepada orang tua dan masyarakat, serta menciptakan citra sekolah yang profesional dan terkelola dengan baik.

Sebagai catatan kesimpulan penulis, Revitalisasi Sekolah harus dilakukan secara holistik dan berkelanjutan. Prioritas dapat dilakukan secara bertahap dimulai dari ruang dengan dampak paling langsung terhadap proses belajar (ruang kelas, toilet, perpustakaan), namun tidak mengabaikan ruang pendukung lainnya.

Pendekatan partisipatif melibatkan guru, siswa, orang tua, dan masyarakat dalam perencanaan revitalisasi sangat penting untuk menciptakan rasa memiliki dan keberlanjutan. Dana yang dibutuhkan tidak sedikit, oleh karena itu diperlukan komitmen kuat dari pemerintah (melalui dana BOS Afirmasi dan BOS Kinerja), swasta (CSR), dan masyarakat.

Dengan merevitalisasi sekolah, kita pada hakikatnya sedang membangun peradaban: menciptakan lingkungan yang tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, nyaman, dan well-being untuk seluruh warga sekolah. (*)

*) Direktur Eksekutif Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan Daerah (LINKKAR)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO