spot_img
Jumat, Januari 30, 2026
spot_img
BerandaBIMA“Satu Rumah Dua Pohon”, Langkah Kecil Bima Hadapi Ancaman Besar

“Satu Rumah Dua Pohon”, Langkah Kecil Bima Hadapi Ancaman Besar

Bima (Suara NTB) – Kerusakan hutan di Kabupaten Bima kian memprihatinkan dan menimbulkan ancaman serius berupa banjir serta longsor. Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima meluncurkan program penghijauan berkelanjutan melalui agenda
“Selasa Menyapa”.

Dalam agenda ini, Bupati dan Wakil Bupati Bima turun langsung ke kecamatan membawa ribuan bibit pohon untuk ditanam bersama masyarakat. Hingga awal September 2025, penanaman sudah berlangsung di sembilan kecamatan, yakni Wera, Woha, Palibelo, Sape, Monta, Lambitu, Parado, Lambu, dan Bolo.

Wakil Bupati Bima, dr. Irfan Zubaidy, menegaskan pentingnya langkah nyata menjaga kelestarian hutan. “Kita tidak boleh kalah dengan masalah, justru kita harus mencari apa masalahnya,” ujarnya pada acara Selasa Menyapa di Kecamatan Bolo, Rabu, 10 September 2025.

Menurut Irfan, strategi penghijauan tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi jangka panjang. Karena itu, Pemkab Bima memilih menanam pohon buah seperti mangga dan nangka agar masyarakat merasakan manfaat ganda: lingkungan yang lebih hijau sekaligus potensi pendapatan tambahan.

Salah satu program unggulannya adalah “Satu Rumah Dua Pohon”. Melalui program ini, setiap keluarga mendapat dua bibit pohon mangga untuk ditanam di pekarangan. Selain itu, setiap desa ditargetkan menanam minimal 100 pohon rimbun dari jenis apa saja.

“Khusus program satu rumah dua pohon, kita prioritaskan pohon mangga. Kalau satu desa bisa menanam ratusan pohon tiap pekan, maka jumlahnya bisa puluhan ribu dalam setahun. Bayangkan, jika satu pohon bisa menghasilkan Rp1 juta, potensi ekonominya bisa miliaran dalam setahun,” terang Irfan.

Ia menekankan, langkah kecil akan berbuah besar jika konsisten dijalankan. Selama lima tahun kepemimpinannya bersama Bupati Ady Mahyudi, mereka menargetkan ratusan ribu pohon mangga tumbuh di Bima.

Lebih jauh, Irfan mengingatkan bahwa penghijauan tidak harus menunggu kawasan hutan. “Kalau tidak bisa tanam di gunung, kita tanam di depan sekolah, pinggir jalan, kuburan, di mana saja,” katanya.

Pemkab Bima memastikan penanaman bibit bukan sekadar seremoni, melainkan gerakan bersama masyarakat. Targetnya, Bima tidak hanya menjadi daerah yang hijau dan asri, tetapi juga lebih tangguh menghadapi ancaman banjir dan longsor.

“Setiap kecamatan yang dikunjungi melalui program Selasa Menyapa akan ditanami lebih dari seribu bibit pohon, dengan prioritas mangga dan nangka,” tutupnya. (hir)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO