spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaNTBPemerintah Harus Evaluasi Program MBG

Pemerintah Harus Evaluasi Program MBG

Mataram (Suara NTB) – Kasus keracunan yang diduga akibat makanan bergizi gratis (MBG) di NTB mendapat sorotan dari pemerhati pendidikan. Belasan siswa di Lobar dilarikan ke rumah sakit usai mengalami sejumlah gejala sakit beberapa saat sehabis menyantap MBG, Rabu, 3 September 2025. Terbaru, puluhan siswa di Empang, Sumbawa juga mengalami hal serupa diduga akibat mengonsumi MBG.

Pemerhati Pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Dr. Muhammad Nizaar, M.Pd., menyoroti rentetan kasus keracunan yang menimpa pelajar tersebut. Menurutnya, kasus-kasus keracunan yang terjadi beberapa waktu terakhir lantaran pemerintah dinilai belum siap melaksanakan program tersebut.

“Karena pemerintah belum siap melakukan program ini. Terbukti instrumen kelengkapan seperti mekanisme monitoring dan evaluasi program belum ada,” katanya kepada Suara NTB, Senin, 22 September 2025.

Nizaar menyampaikan, kejadian keracunan bukan kasus biasa. Bahkan, kata dia, kasus makanan sudah busuk seharusnya dinilai bukan hal biasa. “Sampai hari ini belum ada transparansi dari pemerintah bentuk pertanggung jawabannya seperti apa terhadap masyarakat yg mengalami keracunan,” ujarnya.

Nizaar yang juga Dekan FKIP Ummat itu menyebut, adanya kasus keracunan diduga akibat MBG ini membuat proses pembelajaran menjadi terganggu. Oleh karena itu, ia meminta supaya program Presiden Prabowo ini mesti dihentikan sementara waktu.

“Saya rasa untuk sementara, MBG harus dihentikan dulu. Saat ini memang sedang dihentikan, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait hal-hal teknis, terutama teknis produksi makanan,” terangnya.

Sejauh pemantauannya, kasus yang dominan terjadi adalah soal makanan busuk, beraroma amis, dan terdapat belatung. Menurut Nizaar, masalah terjadi ketika dapur umum menyuplai makanan dalam skala besar. Maka sulit memasak dalam kondisi makanan fresh, pasti mereka akan masak mulai dari sore hari.

“Maka dari sore sampai besok siang akan dimakan oleh anak-anak makanan sudah tidak layak. Oleh karena itu dapur atau cathering harus banyak, sehingga tiap cathering hanya memegang dua sekolah saja,” usulnya.

Dengan serangkaian kasus keracunan yang menimpa pelajar sekolah tersebut seharusnya menjadi alarm peringatan bagi pemerintah untuk berbenah dan mengevaluasi program MBG. Nizaar berharap, ada perubahan fokus pemerintah terhadap MBG ini.

“Jika ini harus dilanjutkan maka kontrol pemerintah tidak boleh lemah, karena menyangkut nyawa dan hajat hidup manusia. Jikapun boleh dihentikan maka ubah MBG dengan memperbesar sekolah rakyat dan fokuskan MBG di sekolah rakyat yang lebih bisa dikontrol dan dievalusi dengan lebih mudah,” tandasnya.

Pemerintah dan Badan Gizi Nasional mesti menjadikan kasus keracunan ini menjadi landasan awal untuk merombak mekanisme dan penerapan MBG. Pasalnya, keracunan tidak hanya membuat proses belajar mengajar terganggu, tapi juga berimplikasi terhadap kesehatan anak. Terlebih, paket MBG yang disantap siswa di Sumbawa terindikasi mengandung bakteri E-Coli.

Dosen Farmasi Ummat, apt. Safwan, MSc., Ph.D., pada Senin, 22 September 2025 mengingatkan bahwa makanan yang tidak higienis dan mengandung bakteri seperti E-Coli dalam jangka pendek dapat menyebabkan gejala mual, muntah, dehidrasi, bahkan keram perut. “Kalau sampai sesak nafas itu akan bahaya,” katanya.

Sementara jangka panjangnya, dapat mengakibatkan gangguan pencernaan kronis dan gangguan tumbuh kembang. “Karena bakterinya dapat menyebabkan infeksi salurann pencernaan sehingga penyerapan nutrisi dari makanan akan terganggu,” jelasnya.

Bakteri seperti e-coli berasal dari usus dan keluar saat buang air besar (BAB). Jadi kata Safwan,  kalau ada E-Coli di tempat tertentu, artinya ada cemaran dari kotoran manusia. “Penyebabnya, ya penggunaan air atau bahan yang sudah tersebar BAB,” ujarnya.

Ia menyarankan agar pihak dapur MBG mengetahui sumber bahan baku dari mana. Bahan baku juga harus dipastikan dalam keadaan aman dan tidak ada kontaminan. “Sumber air yang digunakan harus tidak ada kontaminasi. Karena E-Coli umumnya kontaminan dari air,” tandasnya.

Sebelumnya, Dinkes NTB menyebut bahwa pihaknya tengah melakukan investigasi atas kasus keracunan MBG di Empang, Sumbawa. Dari hasil investigasi tersebut, ada indikasi gejala setelah mengonsumsi paket MBG.

Dinkes NTB lalu membawa sampel paket MBG tersebut diserahkan ke BPOM untuk dilakukan uji laboratorium. “Kita masih menunggu konfirmasi hasil laboratoriumnya,” kata Kepala Dinkes NTB, Lalu, Hamzi Fikri, Jumat, 19 September 2025.

Hamzi menegaskan, bahwa ke depan, pihak terkait mesti memperkuat langkah antisipatif demi mencegah kejadian serupa terulang kembali. Satgas MBG NTB juga diminta memperkuat koordinasi dengan Dinkes dan BPOM. (sib)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO