Bima (Suara NTB) – Minat baca pelajar di Kabupaten Bima terus menurun. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Daerah Kabupaten Bima menilai gawai menjadi salah satu pemicu utamanya. Anak-anak kini lebih sibuk dengan gawai atau ponsel daripada membuka buku.
Sekretaris DPK Daerah Kabupaten Bima, Basyirun, menyebut penggunaan gawai yang masif tanpa kontrol telah menggerus semangat literasi. “Handphone ini memang masif sekali di kalangan anak-anak kita. Oleh karena itu perlu ada pembatasan juga pada penggunaannya,” tegasnya, Rabu 24 September 2025.
Menghadapi situasi itu, DPK tidak tinggal diam. Sejak 2020, mereka meluncurkan perpustakaan digital bernama iBima. Aplikasi ini tersedia gratis di Playstore dan bisa diakses siapa saja. Koleksinya lengkap, mulai dari buku pelajaran sekolah, referensi mahasiswa, hingga bacaan umum.
“Sekarang kita sudah punya perpustakaan digital. Tinggal kita perkuat kontennya agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Basyirun.
Ia menegaskan iBima lahir untuk mendekatkan buku dengan generasi muda yang tidak bisa lepas dari gawai. Daripada ponsel hanya menjadi sarana hiburan, lebih baik dipakai untuk belajar.
Aplikasi iBima kini menjadi ujung tombak DPK dalam mendorong budaya baca di Bima. Dinas berkomitmen terus mensosialisasikan aplikasi ini ke sekolah-sekolah, kampus, hingga komunitas. “Harapannya, pelajar terbiasa menjadikan ponsel sebagai jendela literasi, bukan sekadar layar hiburan,” tuturnya.
Meski sudah ada terobosan digital, Basyirun menilai upaya itu belum cukup. DPK tetap mendorong Pemerintah Kabupaten Bima mengeluarkan regulasi pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah. Tanpa aturan tegas, distraksi dari ponsel akan terus mengganggu konsentrasi belajar anak-anak.
“Handphone ini memang masif sekali di kalangan anak-anak kita. Oleh karena itu perlu ada pembatasan juga pada penggunaan handpone ini,” katanya.
Ia menekankan, peran orang tua juga sangat penting. Waktu belajar di rumah harus steril dari gawai. Anak perlu pengawasan agar tidak mudah tergoda menonton video atau bermain gim. “Semoga nanti kami bisa berkoordinasi dengan teman-teman Dikpora untuk edukasi pelajar terkait hal ini,” tutupnya. (hir)

