Giri Menang (Suara NTB) – Sudah puluhan tahun lamanya, warga masyarakat Desa Gili Gede Indah Kecamatan Sekotong Lombok Barat, hidup dengan “dahaga”. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, mereka harus membeli air ke wilayah seberang yang jaraknya bermil-mil dari desa setempat.
Air yang mereka beli dengan harga lebih mahal berkali-kali lipat itupun, hanya untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Mereka harus menghemat air seefisien mungkin. Namun kisah pilu warga kawasan pariwisata ini akan segera berlalu. Menyusul dibangunnya proyek SPAM air bersih di wilayah itu. SPAM air bersih yang didanai DAK senilai Rp3,4 miliar tersebut sedang dalam proses pembangunan jaringan pipa dan sumur bor untuk melayani 1.400 jiwa warga setempat.
Kades Gili Gede, Awaludin menyebutkan jumlah dusun di desanya ada lima dusun dengan penduduk 1.400 jiwa lebih. Sarana prasarana dasar seperti listrik sudah tersedia di desanya. Sedangkan penyediaan air bersih sedang dalam proses pembangunan SPAM yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dialokasikan pada APBD murni 2026. Pengerjaan pun sudah dimulai bulan lalu, dengan panjang hampir beberapa kilometer. “Semua rumah warga kami akan terlayani,”imbuhnya Rabu, 1 September 2025.
SPAM ini, lanjut dia, nantinya akan melayani sekitar 233 Sambungan Baru. Masing-masing sambungan keran, bisa dimanfaatkan untuk dua atau tiga rumah. Sumber air SPAM ini bersumber dari sumur bor yang saat ini dalam proses pengeboran di wilayah seberang, Tembowong. Dari sisi kualitas dan debet air mencukupi. Yang jelas pihaknya akan mengatur penggunaan air bagi warga, Slsedangkan untuk industri belum bisa dilayani.
Pengerjaan SPAM itu ditargetkan pada pertengahan Desember. Dari sisi legalitas pengerjaan pemasangan pipa di bawah laut, kata dia tidak ada masalah. Sebab izin pemanfaatan perairan atau Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) sudah ada. Rencananya peresmian dilakukan pada HUT desa nanti dirangkai dengan even pariwisata akhir tahun ini. “Kami rencanakan peresmian nya pada saat HUT desa,”ujarnya.
Di tempat yang sama, Kadus Tanjungan Ersan Saparwadi mengatakan, jumlah KK di dusunnya sebanyak 78 KK. Semua warganya akan terlayani air bersih dari SPAM ini. “Titik poinnya (SPAM) di dusun kami, makanya begitu pas penggalian kami kawal ketat. Kalau dangkal kami suruh gali lagi,” katanya.
Ia menuturkan selama ini warganya sangat susah mendapatkan air bersih. Mereka harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Satu galon air isi ulang dibeli Rp10 ribu, sedangkan kalau menggunakan tandon harganya Rp50 ribu. Itupun belum termasuk biaya ongkos perahu untuk mengangkut air dari seberang ke Gili. Satu tandon air kapasitas 1200 hanya dipakai untuk selama sepekan bagi satu kepala keluarga (KK).
Jika satu tandon dipakai oleh dua atau tiga KK, hanya bisa bertahan selama tiga atau empat hari. Rata-rata penghabisan selama sebulan untuk kebutuhan air saja, bisa mencapai 200 ribu lebih. Sehingga dengan adanya bantuan SPAM ini, harapan warga yang sekian puluh tahun telah terpenuhi. Mereka tidak lagi susah mendapatkan air. “Ya selama sekian lama (puluhan tahun) kami menunggu Alhamdulillah akhirnya bisa segera terlayani (air bersih),”katanya penuh syukur.
Sementara itu, Wakil ketua DPRD Lobar yang berasal dari Desa Gili Gede H. Abubakar Abdullah mengatakan bahwa pihaknya mengupayakan penanganan daerah itu dari sisi infrastruktur dasar, mulai listrik dan air. Tinggal kata dia, akses jalan poros, jalan lingkar, penerangan jalan dan pelabuhan. Pihaknya sudah mengupayakan Pembangunan jalan poros lingkar tersebut pada awal ia menjabat tahun 2019 lalu.
Waktu itu ia optimis itu bisa terealisasi, namun akibat recofusing anggaran sehingga mandek sampai sekarang.
Akan tetapi, lanjut dia, satu per satu sarana dan prasarana dasar sudah tertangani. Dengan adanya pembangunan sarana dasar listrik dan air ini sangat membantu memudahkan warga. Selain itu ia yakin akan mendongkrak potensi desa ini. “Alhamdulillah, sudah terangani satu persatu,”imbuhnya.
Dulu sebelum ada listrik dan air, warga sangat kesulitan. Biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar air sangat tinggi. Warga harus membeli air dengan kisaran puluhan ribu hingga ratusan ribu per kubik, belum ongkos angkut dari seberang. “Kalau industri itu satu kubik 125 ribu, kalau beli di daratan itu tidak seberapa,” sambungnya.
Padahal, lanjut dia, potensi Gili Gede sangat besar. Desa ini memiliki paket komplit. Sebab ada danau, bukit dan pantai sudah ada di sana. (her)



