Mataram (Suara NTB) – Kota Mataram terus memberikan daya tarik tersendiri bagi pelaku bisnis. Dengan kualitas infrastruktur yang bagus, ibukota provinsi NTB ini sangat diminati investor untuk menanamkan investasinya. Sektor jasa dan perdagangan menjadi primadona.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Mataram, H. Amiruddin menerangkan, iklim bisnis di Mataram cukup berkembang signifikan. Salah satunya di bidang akomodasi serta hunian.
Pengusaha melirik ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat ini, sebagai tempat investasi yang aman dan nyaman. “Sekarang paling banyak berkembang itu bisnis jasa dan perdagangan. Saya banyak mengeluarkan izin,” kata Amir dikonfirmasi pada, Kamis, 2 Oktober 2025.
Kondisi infrastruktur yang memadai, pengolahan sampai, serta sistem pengaliran yang baik menjadi alasan investor sangat tertarik berinvestasi di Kota Mataram. Amir membandingkan dengan kabupaten/kota lain di NTB, sepertinya Kota Mataram paling siap dari segala aspek, terutama kondusifitas wilayah dan lain sebagainya. “Mataram sangat diminati sebagai tempat berinvestasi,” ujarnya.
Rata-rata pengusaha lanjut Amir, memiliki perencanaan dan lahan untuk pengembangan kawasan bisnis. Saat ini, kawasan tengah Kota Mataram, paling banyak berkembang bisnis kuliner atau kafe. Sedangkan, di kawasan Selatan pengembangan perumahan.
Pengusaha property ingin mengembangkan atau menambah membangun hunian tapak, tetapi masih menunggu perubahan rencana tata ruang wilayah (RTRW). “Jangan sampai mereka membangun kemudian melanggar aturan,” harapnya.
Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Mataram menegaskan, investasi sedang tumbuh. Hal ini dibuktikan dari capaian triwulan kedua di tahun 2025, nilai investasi mencapai Rp1,2 triliun atau 105 persen dari target Rp1,1 triliun.
Menggeliat investasi ini diakui, didominasi kegiatan perdagangan dan jasa memiliki kontribusi yang tinggi. “Sekarang ada dua hotel bintang tiga yang mau datang mengurus izinnya. Tetapi saya tidak tahu hotel apa namanya,” katanya.
Ia tidak memungkiri setiap investor mau berinvestasi menemukan riak-riak kecil di tengah masyarakat. Kondisi ini bisa dikendalikan dengan baik. Selain itu, pengusaha tetap memperhatikan prosedur administrasi dan memperdayakan masyarakat setempat. (cem)


