spot_img
Rabu, Januari 28, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMCamat dan Lurah Diminta Waspada Ancaman Banjir

Camat dan Lurah Diminta Waspada Ancaman Banjir

Mataram (Suara NTB) – Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa puncak musim hujan lebih awal dibandingkan prediksi sebelumnya. Camat dan lurah diminta mulai mewaspadai ancaman banjir dan genangan di masing-masing wilayah.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Mataram, Ahmad Muzaki ditemui pada, Senin, 6 Oktober 2025 menjelaskan, berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bahwa musim hujan datang lebih awal dan musim kemarau lebih pendek. Saat ini, intensitas hujan di Kota Mataram mulai tinggi. Hal ini disebabkan arah cuaca berubah menyebabkan hujan lebat. “Kalau di provinsi sekarang statusnya masih musim kering,” terangnya.

Meskipun hujan lebat lanjut Muzaki, Pemkot Mataram belum menetapkan siaga hidrometeorologi, karena melihat intensitas hujan. Kendati demikian, tim reaksi cepat BPBD Kota Mataram, tetap diminta melakukan pemantauan di wilayah aliran sungai dan pinggir pantai. “Kita melakukan siaga setelah ada hasil evaluasi dari BMKG,” ujarnya.

Potensi kebencanaan selama ini terjadi di Kota Mataram kata dia, adalah banjir dan genangan. Dinas Pekerjaaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, telah mulai melakukan perbaikan saluran dan mengeruk sedimentasi.

Selain itu, ia meminta camat dan lurah meningkatkan kewaspadaan dan memantau kondisi di wilayah masing-masing. “Jika ada potensi kerawanan bisa langsung melapor ke grup what’sApp, sehingga segera dilakukan antisipasi,” katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Lale Widiahning menjelaskan, hasil pemetaan yang dilakukan bahwa kawasan Lingkar Selatan lebih besar potensi terjadi banjir dan genangan. Potensi kebencanaan lainnya adalah banjir rob di daerah pesisir pantai.

Mitigasi lebih awal dilakukan dengan melakukan pengerukan sedimentasi dan memperbaiki infrastruktur lainnya. Selain itu, infrastruktur yang rusak akibat banjir seperti beronjong dan talud sudah mulai diperbaiki.

Lale menyebutkan, Lingkungan Karang Genteng adalah kawasan langganan genangan setiap tahun. Pihaknya melakukan normalisasi saluran mulai dari Karang Genteng sampai Lingkungan Peresak.

Ia memiliki kendala saat proses normalisasi di Lingkungan Peresak, Kelurahan Pagutan. Pasalnya, banyak plat beton sehingga butuh waktu untuk bernegosiasi dengan masyarakat. “Kalau plat betonnya dibongkar alat berat bisa leluasa bekerja,” katanya.

Lale menyadari banjir dan genangan menjadi pekerjaan rumah dan menghantui masyarakat. Ia meminta penjaga bendungan dan palang pintu air untuk menginformasikan apabila ada potensi naiknya muka air. Tujuannya agar segera dilakukan antisipasi di hilir maupun di tengah kota.

Pencegahan dilakukan sifatnya jangka pendek. Ia mengakui solusi penanganan banjir dan genangan adalah membangun kolam retensi. Pembangunan kolam retensi sebenarnya telah diusulkan oleh pimpinan sebelumnya. Pelaksanaannya tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke Pemkot Mataram, melainkan perlu keterlibatan dari Balai Besar Wilayah Sungai, Kabupaten Lombok Barat, dan instansi lainnya. Salah satu rekomendasi atau peta perencanaan di rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Mataram, adalah membangun satu atau dua kolam retensi. (cem)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO