spot_img
Minggu, Februari 15, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURCamat Sembalun Sebut Wisata Senaru KLU Lebih Dulu Terkenal

Camat Sembalun Sebut Wisata Senaru KLU Lebih Dulu Terkenal

Selong (Suara NTB) – Kecamatan Sembalun, Lombok Timur (Lotim) menyimpan potensi wisata yang sangat besar. Namun, di kancah pariwisata regional, kawasan ini masih kalah tenar dibandingkan dengan, Senaru Lombok Utara. Padahal, status Sembalun sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) seharusnya menjadi pendorong utama.

Camat Sembalun, Suherman, mengakui bahwa wisata Senaru lebih dulu terkenal dibanding Sembalun. Senaru sama dengan Tete Batu telah lebih dulu berkembang. “Senaru pariwisatanya lebih awal dari Sembalun. Jejaring di kancah internasional lebih dulu terbangun, sehingga wisatawan mancanegara (bule) lebih banyak yang datang ke sana,” ujar Suherman.

Kondisi ini menciptakan perbedaan dinamika sosial ekonomi. Porter atau pemandu wisata di Senaru, yang umumnya tidak memiliki lahan pertanian, sering menghadapi masa menganggur ketika musim pendakian Gunung Rinjani ditutup.

“Mereka tidak punya pekerjaan lain, sehingga banyak yang mengobral paket wisata dengan harga sangat murah, cukup dengan DP (uang muka). Ini mirip dengan yang terjadi di Maringkik, di mana banyak nelayan yang melelang perabotan rumah tangga sebelum musim melaut,” jelas Suherman.

Sebaliknya, masyarakat Sembalun banyak yang memiliki lahan pertanian. Hal ini justru menjadi tantangan tersendiri. “Banyak porter di sini enggan meninggalkan lahan pertanian mereka, terutama saat harga hasil sawah lebih menjanjikan,” tambahnya.

Dari sisi penawaran, paket wisata Senaru juga dinilai lebih menarik karena terintegrasi. “Senaru paketnya sudah ‘Gili dan Gunung’. Sementara Sembalun, jika digencarkan, petualangan (Petrando) harus terintegrasi dengan gunung. Konsep from marine to mountain di sini belum terintegrasi,” papar Camat.

Akibatnya, Sembalun mengalami nasib serupa dengan Ekas di Lombok Timur, yang lebih terkenal dengan Kuta-nya. Mayoritas wisatawan pun memilih untuk menginap di Senaru. Suherman menegaskan bahwa hal ini bukan disebabkan oleh rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) atau akomodasi di Sembalun. “Akomodasi sudah banyak dan SDM sudah hebat. Ini lebih ke faktor histori dan pembentukan jejaring yang lebih dulu,” ujarnya.

 Menghadapi tantangan ini, Pemerintah Daerah (Pemda) memiliki tugas besar untuk menyinergikan seluruh potensi. Salah satu strategi kuncinya adalah memanfaatkan status Sembalun sebagai KSPN. “Kami akan gencarkan lobi ke kementerian di Jakarta untuk meminta dukungan dengan memanfaatkan status ini,” tegas Suherman.

Langkah konkret yang akan segera dilakukan adalah mengkurasi seluruh potensi dan keunikan budaya khas Sembalun. Selain itu, percepatan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) juga menjadi prioritas. “Ini penting agar pembangunan tidak di mana-mana menanam beton,” imbuhnya.

Namun, tantangan terberat justru terletak pada persatuan pemahaman. Kecamatan Sembalun terdiri dari enam desa yang saat ini masih berjalan secara parsial dengan pemahaman yang berbeda tentang pembangunan wisata.

Ia berharap di masa depan, para kepala desa dapat bersinergi. “Mudah-mudahan kita memiliki satu pemahaman dalam bicara pembangunan wisata. Dengan begitu, efek domino akan lebih besar. Wisata tidak hanya tentang banyaknya kunjungan, tapi pembangunan di sektor lain juga akan sejalan,” pungkasnya.

Dengan komitmen untuk membangun secara berkelanjutan dan menyatukan visi, Sembalun diharapkan dapat mengoptimalkan potensinya yang besar dan tak lagi berada di bawah bayang-bayang ketenaran daerah lain. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO