Selong (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) secara resmi menutup operasional empat sekolah swasta melalui Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Penutupan ini dilakukan karena sekolah-sekolah tersebut tidak memiliki siswa sama sekali atau jumlah muridnya sangat minim.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Sekdis Dikbud) Lotim, Lalu Bayan Purwadi, S.Sos, kepada Suara NTB di Selong Selasa, 11 November 2025 membenarkan telah mengeluarkan SK Penutupan terhadap dua Sekolah Dasar (SD) dan dua Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang semuanya berstatus swasta dan berbasis Islam Terpadu (IT).
Keempat sekolah yang ditutup tersebut adalah SD Islam Terpadu Ittihadul Ummah Al-Akbar di Lenek, Kecamatan Lenek. Kedua, SD Islam Darul Khair NW Embung Ganang di Sambelia, Kecamatan Sambelia. Ketiga, SMP IT Al-Wustho Telaga Waru di Kecamatan Pringgabaya. Keempat, SMP IT Islahul Ummah Hidayatullah di Padag Guar, Kecamatan Sambelia.
Keputusan Dikbud tertuang dalam SK dengan Nomor 100.3.3.2/1925/Dikbud/2025 itu ditandatangani oleh Plt. Kepala Dinas Dikbud Lotim, H Hasni, SE, M.Ak, pada tanggal 28 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Miq Bayan menegaskan keputusan penutupan ini bukanlah tindakan yang tiba-tiba. Ini merupakan hasil usulan dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) di tingkat kecamatan setelah dilakukan verifikasi lapangan.
Keputusan Dikbud Lotim menghentikan pengoperasian sekolah tidak saja dari rekomendasi UPT Kecamatan, akan tetapi juga sudah dilakukan verifikasi faktual bahwa sekolah tersebut tidak memiliki siswa atau kebanyakan muridnya kurang dari 10 orang.
Kondisi tersebut, lanjutnya, sudah tentu jauh dari standar minimum penyelenggaraan pendidikan formal. Beberapa sekolah yang ditutup bahkan ada yang telah berdiri puluhan tahun, namun tidak kunjung berkembang.
Menurut Miq Bayan, faktor utama yang menyebabkan sekolah-sekolah ini sepi peminat adalah persaingan dengan sekolah lain, baik negeri maupun swasta, yang lebih maju dan memiliki daya tarik lebih. Penyebab minimnya siswa ini karena biasanya kalah saing dengan sekolah terdekat yang jauh lebih maju.
Ia mengingatkan sebenarnya tidak mudah mendirikan sekolah jika mengacu pada peraturan yang ada, seperti ketentuan jarak minimal 1,5 kilometer antar sekolah dan perbandingan jumlah populasi. Sebagai contoh, untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), idealnya ada satu PAUD untuk setiap 150 penduduk.
Saat ini, jumlah PAUD di Lotim sudah mencapai 1.200 unit, SD 700 unit, dan SMP 140 unit, yang dinilai sudah cukup ideal dilihat dari sebaran jarak tempuh. (rus)

