Mataram (suarantb.com) – Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat (Dinsos NTB) melalui Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial menggelar program Tagana Masuk Sekolah. Program ini diselenggarakan di dua sekolah di NTB. Yaitu Pondok Pesantren Nurul Bayan, Kabupaten Lombok Utara, dan SMAN 1 Sembalun, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.
Kepala Dinas Sosial NTB, Dra. Nunung Triningsih, M.M., mengatakan, program Tagana Masuk Sekolah sebagai bentuk upaya peningkatan kesiapsiagaan bencana bagi para pelajar. “Di Ponpes Nurul Bayan, Kabupaten Lombok Utara, para peserta mendapatkan edukasi langsung. Edukasi tersebut tentang berbagai potensi bencana di wilavah mereka,’’ ujarnya, Jumat, 14 November 2025.
Program Tagana Masuk Sekolah ini merupakan kegiatan sosialisasi dan simulasi yang bertujuan membangun budaya sadar bencana sejak dini. Selain itu, meningkatkan pengetahuan praktis, serta memperkuat kesiapsiagaan pelajar dalam menghadapi situasi darurat.
Dalam pelaksanaannya, peserta diperkenalkan pada berbagai materi penting terkait kebencanaan. Mulai dari pemahaman potensi bencana di lingkungan sekitar, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Selanjutnya pembentukan struktur penanganan bencana di tingkat sekolah/pesantren, hingga kegiatan mapping untuk mengenali titik-titik rawan. Selain itu, para santri juga mengikuti sesi simulasi bencana yang dipandu langsung oleh Tim Tagana NTB.
Tagana Masuk Sekolah Bangun Budaya Sadar Bencana Sejak Dini
“Program Tagana Masuk Sekolah ini merupakan kegiatan sosialisasi dan simulasi yang bertujuan membangun budaya sadar bencana sejak dini. Meningkatkan pengetahuan praktis serta memperkuat kesiapsiagaan pelajar dalam menghadapi situasi darurat,’’ katanya.
Menurutnya, alasan Dinas Sosial NTB memilih Bayan dan Sembalun sebagai lokasi pelaksanaan program Tagana Masuk Sekolah. Sebab kedua daerah ini termasuk daerah rawan bencana. Apalagi kedua daerah ini, Lombok Utara dan Lombok Timur tercatat pernah menjadi titik gempa pada Gempa Lombok tahun 2018 lalu.
“Sembalun merupakan wilayah yang memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Oleh karena itu, siswa perlu dibekali keterampilan mitigasi yang memadai. Program ini bukan sekadar sosialisasi, tetapi pembentukan budaya sadar bencana di lingkungan sekolah. Agar setiap elemen dapat bergerak secara terstruktur dan responsif saat bencana terjadi,” jelas Nunung.
Dinas Sosial NTB berharap kegiatan ini mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar. Selain itu, sekaligus menjadi langkah preventif dalam mengurangi risiko bencana di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat. (era/*)


