Selong (Suara NTB) – Guna meningkatkan kemampuan dan teknik membaca, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Lombok Timur (Lotim) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Membaca Nyaring selama tiga hari, mulai Senin (17/11/2025) hingga Rabu (19/11/2025). Kegiatan yang berlangsung di aula DPK Lotim ini diwarnai dengan semangat dan antusiasme tinggi dari seluruh peserta.
Kepala DPK Lotim, Dr. H. Mugni, menekankan bahwa bimtek ini memiliki arti penting strategis, terutama bagi anak-anak di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD). “Anak-anak SD itu kita tahu, ketika membaca harus dengan cara yang nyaring. Di sinilah tekniknya diajarkan,” ujarnya.

Bimtek ini secara khusus ditujukan bagi para guru, orang tua wali, pengelola perpustakaan desa, dan praktisi taman bacaan masyarakat (TBM). Dr. Mugni memaparkan bahwa membaca nyaring bukan sekadar mengeluarkan suara, tetapi merupakan sebuah teknik mentransformasikan pengetahuan.
“Ada teknisnya, seperti cara memberikan tekanan, intonasi, dan menempatkan jeda. Bagaimana membaca tanda seru, tanda tanya, dan tanda baca lainnya itu ada seninya. Dengan teknik yang benar, secara tidak sadar terjadi interaksi dengan pendengar dan buku yang dibaca, sehingga maknanya lebih mudah dipahami,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan kemampuan para pendidik dan orang tua dalam memahami bahan bacaan meningkat, yang pada akhirnya dapat menular kepada anak-anak. Anak-anak diharapkan menjadi lebih mudah tertarik dan memiliki kegemaran membaca yang lebih tinggi.
“Teknis membaca nyaring ini sangat penting bagi anak SD agar guru dapat mengetahui dan membimbing proses membacanya. Tugas guru adalah membimbing anak untuk membaca, menganalisis, menghafal, dan menulis,” jelasnya.
Ia juga memperkenalkan motto literasi terbaru DPK Lotim, yaitu 4M: Membaca, Mengulang, Menghafal, dan Menulis. “Jadi kalau sudah sampai ke tahap menulis, artinya anak sudah benar-benar memahami apa yang dibacanya. Ini adalah salah satu terobosan DPK Lotim, salam literasinya 4 M,” imbuhnya.
Kegiatan ini diikuti secara total oleh 150 peserta yang dibagi dalam tiga sesi. Rinciannya adalah 50 orang guru, 50 orang tua dari siswa SD/MI, dan 50 orang praktisi perpustakaan. Dengan demikian, diharapkan ekosistem literasi di Lombok Timur dapat terdongkrak dari berbagai lini. (rus)


