spot_img
Rabu, Februari 18, 2026
spot_img
BerandaNTBSUMBAWAPetani Desa Mama Sumbawa Hidup dari Sektor Pertanian

Petani Desa Mama Sumbawa Hidup dari Sektor Pertanian

Mataram (suarantb.com) – Di balik keunggulan sektor pertanian, namun Desa Mama, Kecamatan Lopok, Kabupaten Sumbawa masih hadapi kendala. Selain sektor pertanian, pariwisata juga masuk kategori pontensia di desa.

Kepala Desa Mama, Mustafa mengatakan, dari sektor tersebut, yang menonjol dan menjadi andalan sumber pendapatan masyarakat sekitar adalah pada sektor pertanian. ‘’Tanaman pangan, perkebunan, dan kehutanan masuk kategori potensial di Desa Mama,” kata Mustafa mengutip dari laman resmi Pemerintah Desa Mama.

Jumlah penduduk Desa Mama sebanyak 2.731 jiwa. Rata-rata berprofesi sebagai petani. Tanaman unggulan masyarakat Desa Mama adalah padi, palawija, dan jagung. “Namun yang masih menjadi kendala adalah ketersediaan pupuk, jauh dari kata cukup,” ujarnya.

Sementara pada sektor pariwisata, Desa Mama mengandalkan wisata air terjun yang saat ini masih aktif dikunjungi para pecinta wisata alam. Kemudian ada juga tempat wisata pegunungan, menjadi taman nasional, juga sebagai tempat perkemahan. “Tetapi tingkat pemanfaatannya masuk kategori pasif,” tutupnya.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus memperkuat langkah pembangunan daerah dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang beragam. Sektor-sektor seperti pertanian, kelautan, peternakan, dan perkebunan menjadi fokus utama pengembangan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo menjelaskan, Sumbawa memiliki dua kelompok besar sumber daya alam, yaitu sumber daya tidak terbarukan seperti tambang dan mineral, serta sumber daya terbarukan seperti pertanian dan kelautan.

Pemerintah daerah, lanjut Dedi, terus berupaya mengarahkan transformasi ekonomi menuju sektor yang bersifat berkelanjutan.

“Sektor pertanian dan kelautan disebut sebagai pilar utama, karena keduanya mampu menopang kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang,” kata Dedi kepada NTBSatu, Senin 3 November 2025.

Selain itu, sektor perkebunan juga tumbuh pesat. Kopi Sumbawa menyumbang lebih dari 42 persen produksi kopi NTB, sedangkan komoditas bawang merah terus meningkat dengan kontribusi 13,83 persen.

Sementara itu, Pemprov NTB terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor-sektor potensial daerah, seperti pertanian, kelautan, pariwisata, dan sejumlah sektor lainnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB, Dr.Ir.H. Iswandi, MSi mengatakan, setiap sektor memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Termasuk pada skala desa.

Dalam RPJMD pemerintah daerah telah menetapkan arah pemgembangan sektor-sektor potensial melalui program unggulan Agromaritim; yang fokusnya untuk membentuk Eko sistem industri Agromaritim dari hulu ke hilir. Dukungan diprioritaskan untuk menguatkan swasemenda pangan serta hilirisasi dan industri pengolahan.

“Sektor-sektor potensial tetap menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat kita. Pemerintah terus memberikan dukungan, misal pada sektor pertanian, seperti mulai dari penyediaan benih unggul, pupuk, hingga fasilitasi pemasaran hasil panen,” ujarnya.

Langkah ini, lanjut Iswandi, sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.

“Masing-masing daerah, tentu memiliki potensi pada sektor yang berbeda-beda. Itu yang akan kita upayakan untuk terus dikembangkan,” ujarnya.

Selain pertanian, sektor kelautan juga menjadi fokus. Termasuk pariwisata. Menjadi program unggulan NTB Pariwisata Berkualitas yang arah pengembangannya diintegrasikan dengan pariwisata Bali dan NTT.

Pariwisata NTB terintegrasi dengan pariwisata Bali dan NTT sehingga diperkuat dari sisi konektivitas logistik maupun mobilitas orang atau penumpang.

“Dengan demikian standar destinasi yang ada di NTB mesti mengikuti standar-standar yang berlaku secara internasional karena Bali menjadi Hub pariwisata internasional,” ujarnya.

“Semua sektor ini saling terkait. Jika kita kuatkan bersama, maka dampaknya akan luas, bukan hanya bagi ekonomi daerah, tapi juga kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Pemerintah provinsi juga mendorong kolaborasi antara pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat rantai nilai di setiap sektor.

“Melalui pendekatan ini, diharapkan pertumbuhan ekonomi NTB tidak hanya bertumpu pada satu sektor, tetapi lebih merata dan berkelanjutan,” ujarnya. (r)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO