spot_img
Minggu, Juli 14, 2024
spot_img
BerandaBlogUsai Porang, DSA Sentuh KWT di KLU Produksi Komoditas Serba Biji Kelor

Usai Porang, DSA Sentuh KWT di KLU Produksi Komoditas Serba Biji Kelor

Program Desa Sejahtera Astra (DSA) yang dimotori PT. Astra Internasional Tbk melalui Fasilitator DSA, kembali merambah petani di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Setelah petani porang, DSA kini menyisir Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berada di wilayah Kecamatan Kayangan.

Fasilitator DSA Kabupaten Lombok Utara, Puguh Dwi Friawan, kepada Suara NTB, Minggu (30/6) mengungkapkan, pendampingan kelompok KWT berfokus di 5 desa di Kecamatan Kayangan, masing-masing Desa Salut, Desa Selengen, Desa Gumantar, Desa Kayangan dan Desa Santong Mulia. KWT dengan jumlah anggota antara 30-50 orang di tiap desa itu dibina untuk memproduksi komoditas baru rasa kelor.

“Komoditas yang sudah diproduksi dari biji kelor berupa kopi kelor, stik kelor, kue kering kelor dan tempe kelor. Hanya Teh kelor yang berasal dari daun kelor,” ungkap Iwan.

Puguh yang juga putra sulung Guru Besar Fakultas Pertanian Unram, Prof. Ir. Suwardji, M.App.Sc., Ph.D., mengaku menjadi pendamping menguatkan gerakan sang Profesor. Di tangan sang Ayah, program pendampingan untuk petani di KLU berjalan dengan dikuatkan oleh pembiayaan CSR dari PT. Astra Internasional.

Pada program pendampingan produksi olahan biji kelor ini, Astra membantu KWT sesuai kebutuhan. Antara lain bantuannya seperti mesin hand tractor untuk mengolah sawah. Ini berlaku untuk KWT di Desa Santong Mulia, di mana KWT di desa ini, menggarap lahan untuk menghasilkan cabai. KWT kesulitan modal karena untuk membuat bedengan membutuhkan biaya cukup besar mencapai Rp 10 juta. Alasan inilah, Astra membantu mesin olah lahan.

Sementara di desa-desa lain, kebutuhan alat produksi disesuaikan. Meliputi alat oven, kompor, alat cetak, serta peralatan pelengkap lainnya. Dengan pendampingan ini, KWT bisa berproduksi dengan komoditas yang tergolong inovatif, yaitu snack dan minuman dari biji kelor.

“Komoditas biji kelor ini akan kita bawa pameran di Jakarta, nanti sekitar bulan Oktober. Kita juga sempat memperkenalkan kepada buyer yang mengekspor berbagai snack ke Vietnam dan China, ada ketertarikan. Tinggal kita promosikan lebih lanjut,” ujarnya.

Iwan menerangkan, animo pasar dalam negeri maupun ekspor terhadap produk camilan dan minuman alami cenderung bergeser. Sebelumnya, pasar cukup berminat pada komoditas dodol dari berbagai bahan baku. Belakangan, produk yang cenderung berasa manis ini terkesan mulai dihindari karena kandungan gula. Pilihan kesehatan rupanya menjadi alasan utama mengapa konsumen, khususnya konsumen luar negeri, lebih memilih produk organik non kolesterol dan tanpa gula.

“Saya amati di Jakarta, rata-rata pasar mencari morinaga kelor.  Orang luar sudah tidak mau dodol, tidak mau yang manis-manis, pengawet maupun MSG. Minat konsumen di Singapura juga ada kencenderungan mulai bergeser,” terangnya.

Pihaknya optimis, produk biji kelor yang relatif masih baru bagi pasar ini akan diminati oleh konsumen. Sebab pada beberapa kesempatan, sampel produk seperti tempe biji kelor, mendapat respons positif.

Fasilitator pada tahap ini juga tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat untuk berproduksi. Selain membantu mencarikan pasar, Fasilitator DSA juga terus  melengkapi kebutuhan penyempurnaan produk baik dari pengepakan, informasi gizi, maupun cita rasa. “Harapan kita, produk biji kelor ini dapat membantu memperbaiki kualitas ekonomi petani,” tandas Iwan. (ari)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -



Most Popular

Recent Comments