spot_img
Minggu, Juli 14, 2024
spot_img
BerandaEKONOMIBeda Generasi, Kaum Muda Sulit Tidak Makan Nasi

Beda Generasi, Kaum Muda Sulit Tidak Makan Nasi

Diversifikasi pangan menjadi tantangan bagi sebagian besar masyarakat, khususnya generasi muda. Hal ini karena hampir seluruh masyarakat menggantungkan kebutuhan pangan pokok pada nasi.

Padahal, banyak jenis umbi-umbian yang bisa dijadikan sebagai pengganti nasi, seperti halnya ubi. Ubi bisa dijadikan sebagai pengganti nasi karena mengandung karbohidrat dan serat yang tinggi.

Rata-rata, kaum tua atau baby boomers mengatakan sangat penting melakukan diversifikasi atau penganekaragaman pangan dalam kehidupan sehari-hari, hal ini karena beras yang mengandung gula, sehingga bagi pengidap diabetes, pantang untuk memakan nasi.

“Sarapan saya suka pakai jagung, sama sering ganti nasi pakai ubi karena saya ada diabetes,” ujar salah satu pelaku UMKM yang ada di Sirkuit Selaparang, Hj. Nur, saat ditemui Ekbis NTB pada Sabtu, 6 Juni 2024.

Senada dengan itu, anggota UMKM Rumah Kreatif Bank Sampah Linsi, Husni Hari juga mengatakan yang sama. Ia terbiasa makan dengan selain nasi

“Saya ndak cuma makan nasi, ada ubi, kita bisa kenyang dengan ubi, nasi kita lupakan,” ujarnya.

Ia melanjutkan bahwa ia biasanya mencampur nasi dengan jagung, menurutnya, pencampuran dua pangan ini menjadikannya terasa lebih nikmat. “Kita, kalau beras tinggal dikit, kita campur dengan jagung, malah itu rasanya lebih enak,” lanjutnya.

Pun saat ditanya mengenai harga pangan lokal yang relatif tinggi, ia tidak merasakan hal tersebut. Hal ini karena meski ia sering mengganti nasi dengan pangan pokok lainnya, namun pangan lain ini tidak dikonsumsi oleh seluruh keluarganya, sehingga jika dibandingkan harga beras, menurutnya harga jagung, ubi, singkong, kentang relatif lebih murah.

Sementara itu, kaum muda memberikan respons yang berbalik, yang mana gen Z berpatokan pada nasi sebagai makanan pokoknya.

Neni, salah satu penonton konser MXGP mengaku bahwa dirinya harus makan nasi, meskipun sedang diet, setidaknya makan nasi harus dilakukan sehari sekali.

“Harus nasi, kalau jagung, ubi, jarang saya makan, kecuali lagi diet. Itupun harus makan nasi sedikit, minimal sekali sehari,” katanya.

Ia melanjutkan bahwa diversifikasi pangan memang penting, tapi jika dibandingkan harga dari semua pangan tersebut, menurutnya yang paling murah tetap beras, sehingga adanya beras menjadi bahan pokok tak lepas dari harga pangan ini.

“Kalau ubi, jagung, singkong memang murah per kilonya, tapi engga bisa mencukupi kebutuhan satu keluarga, beda dengan beras, walaupun satu kg 12.000, tapi cukup untuk satu keluarga,” lanjutnya.

Hj. Nur menyampaikan pendapat yang sama, yang mana wajib ada beras di rumahnya karena anaknya harus makan nasi. Ia mengatakan bahwa anak-anaknya menjadikan nasi sebagai tumpuan karbohidratnya, sehingga jika belum makan nasi, maka belum makan.

“Kalau anak-anak pakai nasi aja, walaupun harganya mahal, kanak-anak saya engga bisa ganti nasi pakai jagung atau ubi, karena nasi kan makanan pokok, belum makan nasi, belum makan,” pungkasnya.

Beda halnya, pedagang Ubi Cilembu di Jalan Airlangga Kota Mataram, Hasan mengatakan, tidak perlu adanya diversifikasi pangan. Hal ini karena menurutnya, nasi menjadi sumber pangan yang paling pas untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia.

“Mending beras aja, ubi itu sulit tanamnya, kalau beras kan mudah. Mudah tanamnya, banyak juga kan sawah yang menanam beras, jadi sesuai lah dengan kebutuhan,” katanya pada Minggu, 7 Juli 2024.

Menurutnya, pangan lokal seperti ubi, jagung, dan singkong bukanlah makanan pokok, sehingga beras menjadi satu-satunya penunjang kebutuhan pokok masyarakat.  “Kalau ini kan (ubi, red) bukan makanan pokok ya, cuma cemilan aja,” lanjutnya.

Ia mengaku meski menjadikan beras sebagai makanan pokok, namun tetap ia kadang-kadang mengganti beras menjadi ubi. “Kalau di kampung, kalau belum panen beras, kita makan pakai ubi. Tapi, kalau ada beras, itu yang kita makan,” akunya.

Jika pangan pokok diganti menjadi pangan lokal, maka akan menyusahkan masyarakat, hal ini karena harga pangan lokal yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga beras.  “Harga ubi mahal, pupuknya juga mahal, penjagaannya juga, enggak seperti padi yang ada subsidi pupuk,” ujarnya.

Adapun jika dipaksakan harus melakukan penganekaragaman pangan, maka pemerintah juga harus memperhatikan nasib petani dan masyarakat. Karena, jika beras tidak lagi menjadi pangan pokok, maka pangan lokal seperti ubi, jagung, singkong, kentang, dan sejenisnya akan menjadi pilihan pengganti beras oleh masyarakat. “Bisa juga, yaa secara harga harus murah atau setara dengan beras, yaa dari pemerintah juga harus memberikan harga pupuk yang murah,” tutupnya. (era)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -



Most Popular

Recent Comments