spot_img
Senin, Juli 22, 2024
spot_img
BerandaPENDIDIKANPerihal PPDB, Dikbud akan Berkoordinasi dengan Gubernur Minggu Depan

Perihal PPDB, Dikbud akan Berkoordinasi dengan Gubernur Minggu Depan

Mataram (Suara NTB) – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi membawa sedikit polemik di kalangan orang tua siswa. Pasalnya, ditemukan kasus siswa yang rumahnya berdekatan, namun  ada yang tak lolos sistem zonasi. Sehingga, hari Senin, tanggal 8, Juli 2024, puluhan orang tua siswa mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, meminta kebijakan terkait permasalahan jalur zonasi yang dirasa kurang bijaksana.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, S.Pd.,M.Pd mengatakan seluruh siswa-siswi NTB harus bersekolah, sehingga untuk mengatasi permasalahan yang dialami beberapa siswa, pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Gubernur NTB dan Kementerian minggu depan setelah daftar ulang murni bagi siswa-siswa yang lolos PPDB sudah beres.

“Nanti setelah semua proses daftar ulang selesai yang murni, anak-anak mulai ada yang pra post mulai, dan SMK besok hari sabtu, baru saya lapor ke pak Gubernur, berapa siswa yang belum tertampung dan tentu minta izin ke Kementerian dulu, Insya Allah minggu depan kita cari solusi, setelah semua yang reguler ini selesai dulu sampai Sabtu” ujarnya kepada Suara NTB, Rabu, 10 Juli 2024.

Setelah mendapatkan izin dari Kementerian pendidikan, Aidy mengaku akan segera mencari solusi perihal siswa yang belum tertampung ini. “Siswa yang belum tertampung, (harus, red) tertampung, karena semua anak NTB harus sekolah,” lanjutnya.

Adapun kasus siswa yang tidak lolos sistem zonasi, padahal siswa lain yang berada di samping rumahnya lolos, Aidy mengaku bahwa sistem zonasi tidak hanya dilihat dari jarak sekolah dengan rumah, tetapi juga perlu melihat berapa daya tampung yang dibutuhkan oleh sekolah.

Karena beberapa sekolah memiliki daya tampung terbatas, sehingga meski berada dirumah yang berdekatan, akan dipilih siswa yang lebih tua, dan lebih dulu mendaftar. “Perlu pembuktian, berapa meter bedanya, kecepatan daftar siapa yang duluan. Kedua, siapa yang lebih tua, dia yang akan dipilih,” paparnya.

Tidak hanya itu, bobot juga menjadi penentu lulusnya siswa dari jalur zonasi, yang mana anak kandung lebih diprioritaskan dibanding cucu, cucu lebih diprioritaskan dibanding keluarga lain.

“Baru ada bobot, bobot yang mana? Anak kandung di prioritaskan, cucu nomor dua, kalau family lain belakangan, karena kuota kita tidak mencukupi juka harus ditampung semua,” jelasnya.

Adapun siswa dan orang tua yang ngeyel harus bersekolah di tempatnya mendaftar, ia mengatakan bahwa perlu ditinjau terlebih dahulu, karena saat ini, pihaknya belum mengambil keputusan. “Yang namanya mau disitu (sekolah, red), semua mau disitu, tapi kan kursinya ndak ada, mau dibawah tenda?, ndak boleh gitu lah, minggu depan kita cari solusi,” tutupnya. (era)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -


Most Popular

Recent Comments